Sunday, September 18, 2011

P a s s p o r t

Dapat tulisan bagus dari milis tetangga, banyak nilai berharga yang penting buat diketahui dan diamalkan. Enjoy it!
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.

Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki "surat ijin memasuki dunia global". Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.

Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.

Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?;

Saya katakan saya tidak tahu. Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.

Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.

The Next Convergence

Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.

Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.

Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.

Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.

Rhenald Kasali - Guru Besar Universitas Indonesia

Thursday, July 21, 2011

Saling Melengkapi

Masih tentang hobi nih. Tidak jarang, sepasang ataupun beberapa orang bersatu karena memiliki kesamaan hobi. Mereka membentuk grup / perkumpulan berdasarkan kesamaan tersebut. Bahkan ada yang menikah karena kesamaan hobi sebagai salah satu alasan memilih pasangan.

Saya dan suami, agak sedikit berbeda. Hobi kami tidak sama namun saling melengkapi satu sama lain.

Salah satu hobi suami saya adalah bermain musik. Darah seni memang mengalir di dalam keluarganya melalui sang ayah yang seorang gitaris dan violist sebuah band di masa mudanya. Hanya saja pada masa itu, bermusik bukanlah pilihan yang direstui untuk jadi sandaran hidup. Itu juga yang di-doktrin-kan kepada suami saya dan saudara-saudaranya sehingga musik hanya jadi penghibur di kala sepi atau salah satu penenang di saat suntuk pada rutinitas sehari-hari.

Ketika suami sedang memainkan melodi sebuah lagu, seringkali suara saya menyuarakan liriknya. Dengan nada yang lebih sering tidak cocok dengan nada dasar melodi yang sedang dimainkannya. Telinga awam pasti bisa mendeteksi kalau suara penyanyi tidak sama dengan nada dasar musiknya. Jelas saja jadi terdengar aneh. Kalo meminjam istilah Tukul Arwana, listening skill-nya beda. Telinga saya tidak terlatih mendengarkan nada musik dengan tepat. Kalau sudah begitu, biasanya suami protes. "Dengerin intro-nya dong... Lagu ini, mainnya di nada apa? Trus cocokin suaranya!"
Biasanya saya hanya nyegir. Tapi kadang sempat nyeletuk juga, "makanya bikin lagu sendiri dong... Yang sesuai suaraku. Masak main musik tapi yang dimainin lagu orang melulu."

Lain suami, lain pula saya. Hobi yang sudah dijalani sejak kecil adalah membaca. Terutama bacaan fiksi yang berupa cerpen dan novel. Tapi jangan mengira koleksi novel saya banyak ya?! Karena saya senang membaca tapi tidak senang membeli. Ada banyak cara untuk mendapatkan bacaan tanpa harus membeli.  Terkadang suami kelihatannya ingin tahu isi novel yang saya baca tapi langsung nyerah ketika melihat jumlah halamannya yang tebal. Dan sayalah yang diminta menceritakan isinya lengkap dengan pelajaran / hikmah yang bisa diambil. Tentu aja, sesuai interpretasi saya.

Untuk sebuah novel yang menurut saya bagus dan menarik, saya tahan lek-lekan (bergadang) untuk menamatkannya.  Dan saya bisa membacanya berulang-ulang kali. Suami pernah bertanya ketika dilihatnya saya membaca novel yang sama berkali-kali.
"Apa ga bosan, baca novel yang sama berulang-ulang? Toh, ceritanya sama aja kan?!"
"Itulah tandanya novel yang bagus dan menarik. Dibaca berkali-kalipun, ga ngebosanin."
"Dimana sih menariknya?"
"Bisa ide ceritanya, karakter tokoh-tokohnya. Banyak hal deh yang bikin betah ngebacanya."
"Ah, bisanya cuma baca aja. Tulis novel sendiri dong, yang enak dibaca orang berkali-kali"
Saya tinggal nyengir aja.

Trus hobi saya yang lain adalah mencoba dan memodifikasi resep kue atau masakan. Yang banyak saya coba, resep kue. Baik itu resep dari majalah, tabloid atau hasil browsing. Biasanya saya mimilih resep kue yang kira-kira bisa dimakan oleh suami karena saya sendiri tidak suka ngemil. Hasilnya bisa sukses dan tak jarang gagal juga. Namun bagaimanapun hasilnya (asalkan ga hancur-hancur banget), tetap ludes dimakan suami. Itulah hikmahnya saling melengkapi hobi :D

Tuesday, June 14, 2011

Mobil - mobil(an)

Kalau kita  memperhatikan anak-anak (laki-laki) yang suka dengan mobil-mobilan, biasanya jumlah yang mereka memiliki bisa lebih dari satu. Bahkan keponakan laki-laki saya, mempunyai satu keranjang mainan mobil-mobilan dengan berbagai tipe mobil. Dari yang berukuran besar sampai yang kecil. Itu yang masih bisa dikumpulkan, belum termasuk yang hilang. Wajar saja bila dipajang akan memenuhi satu lemari etalase.

Bagaimana kalau bukan mobil-mobilan melainkan mobil beneran? Memang ada sebagian orang yang hobi mengoleksi aneka jenis mobil. Hobi yang terbilang mahal, menurut saya. Tapi kalau sudah berhubungan dengan hobi, kadang-kadang memang tidak bisa sejalan dengan logika.

Suatu waktu saya pernah membaca ulasan tentang kekayaan calon presiden (sebelum pemilu tahun 2004, kalau tidak salah). Salah satu calon capres memiliki dua belas mobil di garasi rumahnya, produksi dari berbagai perusahaan otomotif dan berbagai tipe. Garasi rumahnya melebihi pemandangan show room produsen mobil. Berita yang sedang hangat baru-baru ini, juga terkait dengan koleksi mobil mewah seorang tersangka kasus pembobolan dana nasabah sebuah bank terkenal. Mobil-mobil itu kemudian disita oleh pihak kepolisian, sehingga kantor polisi mendadak menjadi show room mobil mewah.

Seorang tetangga baru di depan rumah saya, agaknya juga mempunyai hobi mengoleksi mobil. Mereka baru tinggal kurang lebih satu bulan. Saya perhatikan mereka punya tiga mobil dengan tipe yang berbeda yaitu, jeep, sedan dan minibus. Garasi rumah yang mereka tempati hanya bisa untuk satu mobil. Trus dua mobil lainnya parkir dimana dong? Kadang di depan rumahnya, kadang di depan rumah orang lain atau dimana yang ada space kosong untuk parkir. Tak jarang, mobil yang parkir di luar garasi tersebut mengganggu kelancaran lalu lintas di komplek perumahan saya. Saya perhatikan, setiap hari hanya satu mobil yang selalu dipakai keluar, dua lainnya tetap parkir. Dan celakanya, bukan hanya satu tetangga yang seperti itu. Tetangga yang agak jauh (beda 5 rumah dari tempat saya), juga memiliki banyak mobil dan memakai salah satu sisi jalan untuk parkir. Ruwet deh!

Sekali lagi, hobi kadang-kadang memang tidak bisa sejalan dengan logika. Kalo menurut saya, kalau hobi mengoleksi mobil ada baiknya menyiapkan lahan atau tempat yang memadai untuk parkir. Entah itu memperluas garasi, mencari lahan kosong atau menyewa lahan parkir. Jangan sampai hobi kita menggangu orang lain. Lebih baik lagi bila memiliki mobil seperlunya saja, daripada punya banyak mobil tapi jarang dipakai, hanya untuk pajangan di jalan umum. Kalo ga, koleksi mobil-mobilan aja dulu :)

Tuesday, February 01, 2011

Setahun Kemarin

Tanpa terasa bulan Januari sudah berlalu. Janus (dewa dalam mitologi Romawi) yang wajahnya menghadap ke depan dan belakang pada saat bersamaan, perlahan sudah mulai menjauh. February is coming. Bulan cinta dan kasih sayang bagi sebagian orang.

Masih jelas dalam ingatan saya, Februari tahun lalu, bulan yang sangat sibuk menjelang kepulangan ke tanah air. Banyak urusan yang harus diselesaikan dengan baik sebelum meninggalkan bumi sakura. Mulai dari administrasi kependudukan, konfirmasi jadwal kedatangan dengan keluarga dan termasuk minta dicarikan tempat tinggal yang layak saat kami kembali ke Cibinong, hingga mengosongkan barang-barang dari kamar asrama tempat kami tinggal. Di antara semua urusan tersebut, mengosongkan kamar adalah kesibukan yang sangat menyita waktu dan tenaga.

Tak ada malam yang kami lewatkan tanpa menyortir dan mengepak, karena siang hari saya dan suami membereskan aktivitas di luar. Sebagian barang akan kami kirim ke Indonesia. Sebagian lagi akan ditinggalkan saja. Barang yang ditinggalkan, dipilah lagi karena ada beberapa teman yang membutuhkannya dan sebagian yang lain akan kami buang. Pada waktu itu, ingin rasanya menjadi magician yang bisa menyulap segala sesuatu sesuai keinginan dalam  waktu singkat. Membereskan semuanya dalam satu malam. Tapi jelas itu satu hal yang mustahil mengingat kami juga perlu beristirahat. Apalagi saat itu masih musim dingin, kelelahan fisik yang berlarut-larut bisa menurunkan kesehatan tubuh. Seperti cerita Cinderella, akhirnya kami membatasi kerja ini hingga jam 12 malam. Begitu kedua jarum jam bersatu pada angka 12, aktivitas penyortiran dan pengepakan harus berhenti untuk selanjutnya berangkat tidur.

Sejak awal menginjakkan kaki di Jepang, kami menyadari bahwa negeri itu adalah tempat persinggahan sementara. Bagi kami, hidup yang lebih lama akan dijalani di tanah air. Bukannya tidak senang hidup di negeri maju dan sejahtera seperti di Jepang tetapi kami juga punya keinginan untuk membahagiakan orang-orang tercinta yang begitu berharap untuk bisa berkumpul bersama kami.

Sekarang kami mulai menata hidup sedikit demi sedikit. Memang tidak semudah hidup di Jepang karena di tanah air banyak perbedaan signifikan yang harus kami hadapi. Tantangan. Tapi melihat sinar-sinar penuh cinta dan bahagia dari mata yang sudah termakan usia, kami seakan mendapat tambahan energi kehidupan. Berbahagialah bagi mereka yang masih bisa berkumpul dengan orang-orang tercinta, sebelum yang tua pergi atau yang muda mendahului tanpa bisa kembali.

Friday, December 31, 2010

Akhir Tahun

Beberapa jam lagi, tahun 2010 akan segera berakhir. Berbagai peristiwa terjadi setahun ini. Ada yang senang membahagiakan, lucu penuh canda, ada pula kegagalan serta sedih yang memaksa air mata jatuh. Masa yang telah lewat tak akan kembali. Kegagalan dan kekecewaan ga perlu disesali. Begitulah hidup, penuh dinamika yang kadang tak terduga.

Bagi sebagian orang, pergantian tahun adalah moment yang penting untuk dirayakan. Lihat saja, berbagai penawaran selebrasi di restoran, hotel serta beberapa tempat umum. Mereka berlomba memberi penawaran semenarik mungkin. Sebagian besar perayaan itu berupa pesta sejak sore hingga lewat tengah malam. Melihat fenomena tersebut membuat saya berpikir, sebenarnya untuk apa itu semua?

Saya dan suami termasuk orang yang tidak terlalu menganggap penting perayaan pergantian tahun. Bagi kami, tak perlu acara spesial saat pergantian tahun, dilewati biasa saja seperti malam-malam yang lain. Hanya saja dalam obrolan ringan menjelang akhir tahun, sering tercetus target dan harapan yang ingin kami raih di waktu mendatang. Saya kira hal itu wajar, setiap orang ingin lebih baik, lebih maju kan?!

Kilas balik pada saat kami masih menghirup udara negeri sakura, pergantian tahun juga kami lewati di rumah. Bagi orang jepang, tahun baru adalah hari sepesial, waktunya berkumpul dengan keluarga besar layaknya hari raya. Perkantoran dan sekolah libur. Banyak toko/supermarket yang tutup. Selain itu transportasi umum sedikit yang beroperasi. Akhir tahun biasanya saya belanja makanan lebih banyak daripada biasanya. Memastikan stok logistic cukup karena pergantian tahun bersamaan dengan musim dingin yang bawaannya cepat lapar.

Tak jauh beda dengan di tanah air, beberapa hari ini saya juga mempersiapkan stok logistik lebih. Bukan karena khawatir banyak toko/pedagang yang tutup tapi lebih dikarenakan arus lalu lintas yang 'ga nyaman'. Saat pergantian tahun, kemacetan panjang bisa terjadi dimana-mana. Butuh waktu lama hanya untuk menuju jarak yang sebenarnya pendek. Makanya kalau tidak emergency, sebaiknya ga keluar rumah.

WELCOME 2011

Tuesday, August 24, 2010

Berpuasa di negeri sendiri

Kalo di Jepang, saat Ramadhan ataupun bukan, terasa tidak ada bedanya bagi saya. Ritme kerja tidak berbeda. Counter makanan ataupun restoran sama sibuknya saat siang ataupun malam hari. Orang-orang yang menikmati santap siang di tempat umum juga ga ada sepinya. Smoking corner juga tetap disinggahi para perokok. Tidak terdengar teriakan imsak ketika terbit fajar. Tidak ada juga ucapan selamat berbuka dari media televisi setempat. Yah, karena yang merasakan Ramadhan hanya umat muslim yang sedang singgah ataupun memang menetap di sana.Golongan minoritas yang mencoba tetap eksis di tengah masyarakat sekuler.

Sekarang saya merasakan lagi indahnya Ramadhan di tanah air. Jam biologis saya seakan diatur kembali. Satu jam sebelum imsak, tubuh seakan ada yang membangunkan dari tidur. Berniat di dalam hati untuk berpuasa, seakan ada kekuatan yang menopang diri saya menahan haus dan lapar. Sehabis subuh, beraktivitas seperti biasa hingga masuk waktu ashar. Setelah itu saatnya rehat sambil mempersiapkan berbuka. Lalu menunggu adzan maghrib sambil mendengarkan tausiyah.

Aktivitas siang hingga maghrib itu yang rasa berbeda sewaktu tinggal di Jepang. Tak jarang, waktu berbuka saya masih berada di perjalanan.

Namun, Ramadhan di tanah air tidaklah sesempurna harapan saya. Di tempat umum tetap saja ada yang tidak menghormati orang yang berpuasa. Para perokok tanpa rasa malu tetap mengepulkan asapnya. Warung-warung yang menjual makanan tetap ramai didatangi pengunjung di siang hari walaupun ditutupi kain.Sekilas, seperti tak ada bedanya dengan pemandangan di Jepang.

Mungkinkah saya yang berharap terlalu banyak? Ataukah kesadaran yang tidak kunjung tumbuh untuk menghormati orang yang berpuasa?

Monday, July 05, 2010

Curhat di antrian

Waduuuh... Antriannya panjang banget! Begitu deh kalau kesiangan datang ke bagian teller bank. Sebenarnya ga terlalu siang sih, baru juga jam 10 pagi tapi mungkin kebanyakan orang juga sempatnya datang pada jam tersebut jadi banyak sekali yang mengantri.

Iseng-iseng saya melirik orang yang berada di depan saya. Seorang wanita bersama anak lelaki. Taksiran saya mungkin umurnya antara 35-40 tahun dan. Dilihat dari dandanannya, wanita itu cukup modis. Blus lengan pendek warna merah marun dipadukan dengan celana jins ketat membungkus tubuhnya yang ramping. Rambutnya diberi highlite merah marun juga. Sapuan make up di wajahnya, membuat mukanya terlihat lebih terang dibanding warna leher dan tangannya.Tak lupa tas tangan berwarna coklat, bercorak tiruan inisial salah satu merek terkenal, melengkapi penampilannya.

Ups... ada lembaran formulir yang masih kosong tuh. Sebaiknya saya beritahu ah, biar nanti mempersingkat waktu transaksi di teller.
"Maaf bu, saya lihat formulirnya masih ada yang kosong tuh."
"Oh yang ini, harus diisi juga ya?" Dia menunjukkan formulir kosong yang saya maksud.
"Iya bu. Mending diisi sekarang, mumpung masih dekat pulpen. Biar di depan nanti ga perlu lama-lama"
"Iya deh."

Dia mengambil pulpen lalu mengisi formulir. Sementara antrian belum bergerak juga.

"Kayaknya masih lama ya mbak?! Wong dari 15 menit yang lalu saya masih tetap antri di sini." Wanita itu mungkin basa-basi menyapa saya.
"Iya nih"
"Padahal baru seminggu yang lalu saya kesini tapi ga seramai sekarang." Dia membenahi gendongan anaknya.
"Mungkin karena tanggal muda." Saya menimpali sekenanya.

Antrian bergerak sedikit. Anaknya terlihat tidak nyaman berada di tengah antrian. Bocah itu mulai rewel dan memukul-mukulkan tangan pada punggung ibunya.
"Sabar ya le, ibu kirim uang dulu buat kakakmu. Nanti dari sini kita naik angkot lagi, mau kan naik mobil?" Dengan dialek jawa, dia berusaha menenangkan anaknya.
"Putranya umur berapa bu?" Sambil bertepuk tangan ke arah anak itu, berharap bisa mengalihkan perhatiannya.
"Satu setengah tahun mbak. Maaf ya, anak saya rewel. Soalnya, dia biasa main lari-lari. Ya namanya juga anak lelaki, ga bisa diam."
"Itu pipinya kenapa?" Saya menunjuk bercak putih di pipi anaknya.
"Hehehe... Itu panu-an. Ya maklum lah, tinggal di lingkungan proyek bangunan. Mainnya sambil ngacak-acak pasir." Dia terkekeh.
"O.. begitu." Saya tersenyum.

"Suami saya kuli bangunan mbak. Dan kami juga tinggal di lokasi proyek."

"Kok ga cari kontarakan aja?"
"Walah, repot mbak. Tempat kerja bapaknya pindah-pindah. Sekarang proyeknya di Cibinong, beres di sini bisa aja pindahnya ke Depok, atau malah tambah jauh. Kalo ngontrak trus tempat kerjanya pindah lebih jauh, ya berat diongkos mbak."
"Iya juga ya bu."
"Lha gaji kuli kan segitu-gitu aja mbak. Ini aja, saya sisihkan sedikit biar bisa ngirimin anak yang di kampung. Seminggu sekali saya ke sini lho, buat ngirimin walaupun sedikit." Terdengar nada bangga dari suaranya.
"Ga apa-apa bu, sedikit demi sedikit kan nanti bisa jadi bukit." Berusaha membesarkan hatinya.
"Iya mbak ya, soalnya uang di tangan nanti ga terasa habisnya. Makanya tiap minggu kan bapaknya gajian, langsung aja sebagian dipisahkan buat anak yang satunya."
"Kok anak yang satu lagi ga dibawa ke sini, bu?" Saya bertanya penasaran.
"Udah sekolah, repot kalo pindah-pindah jadi saya titip aja sama mbahnya."
"Oo.. Begitu ya bu."

Antrian bergerak, kami pun maju.
"Tadinya saya juga di kampung kumpul sama anak karena tempat kerja bapaknya kan pindah-pindah. Tapi laki-laki kalo jauh dari anak istri, gampang tergoda mbak..." Tanpa sadar, wanita itu mulai curhat.

Bagaikan umbi yang sedikit muncul di permukaan tanah, tinggal memberi sedikit tarikan aja bakal lebih banyak umbi yang keluar.
"Biar ga tergoda, berarti laki-laki itu harus ditemani keluarganya terus ya bu?" Beri sedikit empati agar cerita lebih banyak keluar.
"Ya begitulah mbak. Saya udah ngalami sendiri. Waktu jauhan sama bapaknya, kalo ga saya yang nelpon, bapaknya mana ingat. Nafkah juga begitu, kalo ga dibilangin buat keperluan anak-anak, ga tahu deh kemana pergi gajinya."
"Kecapean kerja kali bu, jadi lupa mau nelepon keluarga."
"Ah, bukan itu mbak. Kemana lagi kalo ga nyari hiburan dan kesenangan sendiri, sampai gajinya habis ga jelas. Emangnya saya anak kemarin sore yang gampang dikibulin?!"
"Aduuh, maaf bu. Saya ga bermaksud begitu." Jadi salah tangkap nih.
"Makanya mbak, terpaksa saya berkorban jadi jauhan sama anak yang besar biar kumpul sama bapaknya."
"Iya bu, hidup itu penuh perjuangan dan pengorbanan ya?!"
"Benar mbak. Siapa lagi yang menjaga keutuhan keluarga, kalo bukan kita sendiri." Dia mengangguk mantap.

Bocah lelaki itu mulai rewel lagi. Ibunya kembali menenangkannya sambil mengalihkan perhatian.
"Eeh... Itu ada bunga le. Lihat itu." Sang ibu menunjuk deretan bunga plastik yang menghiasi salah satu sudut ruangan.
"Bagus ga bunganya? Coba dihitung le, bunganya ada berapa?" Sang anak melihat pada arah yang ditunjukkan oleh ibunya.
"Satu. Dua. Tiga. Ada berapa le?" Bocah itu terlihat mulai teralihkan dari kejenuhan mengantri.

Sementara antrian mulai bergerak. Satu, dua, tiga... Saya pun ikut menghitung. Hmm, masih sepuluh orang lagi, baru setelah itu giliran saya.

Sunday, June 06, 2010

Luar Biasa!

Pfuiih... berapa bulan ya blog ini ga update??! Maklum deh, penulisnya lagi banyak urusan ditambah lagi koneksi internet yang pas-pasan. Pas ke rumah sodara, pas kompie-nya bisa dipinjam bentar. Pas suami hari libur ngantor, bisa nebeng sebentar. Soalnya di rumah belum bisa online. Kalo ke warnet, ga nyaman.. :( Berisik ama yang maen game online. Ya gpp, pas-pasan aja deh. Alhamdulillah, sekarang bisa update.

Jum'at malam kemarin, sempat nonton talk show di Metro TV. Temanya tentang single parent (ibu) yang berhasil mendidik dan menjadikan anak-anaknya menjadi orang sukses. Single parent dengan 2 anak yang sukses, itu sih bukan hal yang aneh kali ya??! Yang menarik dari acara ini, jumlah anaknya itu ga tanggung-tanggung lho.. Ada yang anaknya 10 bahkan 15. Wow! Hari gini gitu lho, dengan biaya hidup maupun biaya pendidikan yang ga murah?! Luar biasa kan?!

Itu aja deh, update hari ini. Yang jelas saya masih terkagum-kagum dengan ibu-ibu tersebut.

Tuesday, March 09, 2010

Demam iPhone

Mulai pertengahan bulan Februari sampai hari ini, frekuensi pertemuan saya dengan teman-teman semakin rapat. Sebenarnya bukan karena saya punya ratusan teman di Tsukuba, hanya saja beda komunitas walaupun orangnya itu-itu juga. Paling ada 2 atau 3 orang yang berbeda.

Seringnya berkumpul, secara tidak sengaja saya jadi tahu telepon genggam yang banyak mereka pakai saat ini. Teman-teman yang orang Indonesia hampir semuanya sudah menggunakan iPhone kecuali saya, ibu itu... dan mbak itu. Saya rasa tentang apa itu iPhone, sudah mengerti ya?! Kalau belum ataupun kurang mengerti, silahkan tanya om Google :D

Melihat teman-teman menggunakan iPhone, terlihat praktis sekali. Dimana dan kapan pun mereka bisa online, main game, dengarin musik ataupun memeriksa dan membalas email. Belum lagi kalau ada objek yang bagus untuk dijepret, langsung deh bergaya. Trus fotonya bisa langsung upload ke situs jejaring sosial mereka. Praktis kan?!

Alasan kepraktisan itulah yang membuat saya juga tergoda untuk memiliki iPhone. Saya pun mengajukan proposal kepada suami, yang kemudian ditindak lanjuti dengan mencari info tentang benda tersebut.

Setelah menerima dan memikirkan masukan dari beberapa teman, termasuk di antaranya yang sudah menggunakan iPhone sejak beberapa bulan yang lalu, kami memutuskan tidak jadi membeli benda itu. Karena kemungkinan besar, tidak sesuai dengan kebutuhan kami.

Ya sudah, demam pun berlalu :D

Wednesday, March 03, 2010

Indonesia, Yang Saya Punya

Saat berpamitan dengan seorang kenalan yang kebetulan bukan orang Jepang, sebut saja namanya Ms. Mary, ada satu pertanyaannya yang cukup membuat saya sedikit tersindir.

"Are you really an Indonesian?"

"Yes, off course. Why did you ask it?" Saya mengira dia bercanda.

"Saya pernah berkunjung ke Jakarta selama satu bulan. Dan saya berhubungan dengan banyak orang Indonesia."

"Oh ya?!"

"Ya, dan saya perhatikan kalau hampir semua orang Indonesia itu berkulit hampir coklat. Tapi waktu pertama bertemu kamu...."

"Memangnya kenapa dengan saya??"

"Kulitmu putih. Dan waktu kamu bilang berasal dari Indonesia, saya agak kaget."

Ucapannya itu cukup membuat saya ge-er.
"Ooo, begitu kah?? Menurut anda, tadinya saya berasal dari mana?"

"Hmm... Kamu lebih mirip orang China."

"No... No. Hanya darah Indonesia yang saya punya. Asli."

"Benarkah? Tidak ada keturunan China?"

"Yang saya tahu, kakek-nenek asli Indonesia. Bahkan nenek buyut/ nenek ayah saya (masih hidup sampai saya masa kuliah), juga asli Indonesia. Seandainya kami ada keturunan China, pasti ada kebudayaan China yang kami jalani sehari-hari."
********

Singkat cerita, dia percaya saya orang Indonesia asli. Sebaliknya saya yang mulai gelisah. Asli Indonesia tapi apa saja yang sudah saya perbuat untuk bangsa dan tanah air Indonesia?

Tuesday, February 16, 2010

Made in Japan

Kalo orang Bali nikah sama orang Jepang, kira-kira nama yang cocok untuk anaknya apa coba???
Made in Japan!! Kan orang Bali banyak tuh, yang namanya pake embel-embel Made... Karena salah satu ortu-nya berdarah Jepang, nama yang cocok ya Made in Japan :D

Ya begitu dulu preface joke-nya ya... Tebakan lucu jadul, jaman saya sekolah dulu.
Saya bukan bermaksud menyinggung lho.... Hanya joke pengantar aja. Mohon maaf.

Yang ingin saya tulis juga bukan pernikahan beda bangsa ataupun beda budaya. Melainkan tentang barang-barang produksi Jepang yang semakin langka ditemukan. Walaupun saat ini saya berdomisili di Jepang, tapi saya cukup merasa kesulitan dalam mendapatkan barang tersebut.

Sebenarnya saya bukan termasuk orang yang 'Japan minded'. Hanya saja, berdasarkan pengalaman selama ini barang produksi Jepang lebih awet dibanding China ataupun lainnya. Kalo dilihat harga, lebih murah produk China tapi bila kita bandingkan dengan lama pemakaiannya sama saja.

Masalahnya sekarang, saya mencari barang yang akan diberikan sebagai oleh-oleh dari Jepang. Tentu saja saya berharap barang tersebut made in Japan. Nyatanya untuk mendapatkan barang tersebut tidaklah mudah. Seorang teman (orang Jepang) menyarankan, cari saja yang tulisan labelnya pakai huruf kanji semua walaupun bukan made in Japan . Jadi kan dianggap benar-benar produksi Jepang, kecuali orang yang menerima barang tersebut mengerti huruf kanji. Hihihi... nakal juga tuh, idenya :D

Friday, November 27, 2009

I k h l a s

Ikhlas itu tidak mudah
tapi juga tidak berarti sulit

Ikhlas tak perlu dipublikasi
Ikhlas tak perlu dokumentasi
Ikhlas itu cukup Allah dan aku.

Ikhlas begitu mudah dilafadzkan
dan ikhlas tak terlalu sulit untuk diamalkan
karena ikhlas adalah hati, ilmu dan amal yang dipadukan
dan cukup Dia dan diri yang terpuaskan... (Umi Rina)

Tuesday, October 20, 2009

Makanan Pendongkrak Imunitas

Hidup sehat bukan berarti harus mengeluarkan biaya mahal untuk menjaga kesehatan. Dari makanan yang kita konsumsi sehari-hari juga bisa meningkatkan ketahanan tubuh.

1. Yoghurt

Probiotik, atau bakteri baik yang terkandung dalam yoghurt menghasilkan antibiotika alami yang membantu keutuhan mukosa usus, proses metabolisme, serta meningkatkan kekebalan tubuh.

2. Oatmeal
Oatmeal dan juga gandum mengandung beta-glucan, jenis serat yang berperan sebagai antimikroba dan antioksidan. Selain meningkatkan antibodi tubuh, konsumsi makanan ini akan mempercepat proses penyembuhan dan membantu antiobiotik bekerja lebih baik.

3. Bawang putih
Berbagai literatur merekomendasikan bawang putih sebagai jenis bahan makanan yang bermanfaat untuk kesehatan. Bawang putih mengandung allicin yang efektif melawan infeksi dan bakteri. Sebuah studi juga menunjukkan orang yang rutin mengonsumsi bawang putih risikonya 30 persen lebih rendah terkena kanker usus besar.

4. Ikan
Selenium yang banyak terdapat pada hasil laut, seperti kerang, lobster, kepiting, atau ikan, akan membantu sel darah putih memproduksi protein sitokin yang akan mengusir virus flu keluar dari tubuh. Ikan salmon, makarel, atau ikan laut dalam lain kaya akan omega-3 yang efektif mengurangi inflamasi, meningkatkan sirkulasi dan melindungi paru-paru dari infeksi.

5.Teh
Orang yang minum 5 cangkir teh hitam setiap hari selama dua minggu diketahui memiliki interferon 10 kali lebih tinggi dalam darahnya dibanding orang yang tidak minum teh. Interferon adalah pelawan virus. Selain itu, teh juga mengandung asam amino L-theanin, yang bertanggung jawab untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Theanin ini ditemukan pada teh hijau atau teh hitam.

Sumber :Kompas

Wednesday, September 16, 2009

Berpuasa

"Kok ga makan?" Murakami san menyapa saya saat istirahat siang.
"Saya puasa."
"Ooo...puasa. Berhubungan dengan agama dan Tuhan ya?!" Dia bertanya lagi.
"Iya betul."
Orang Jepang juga mengenal aktivitas puasa. Biasanya dilakukan oleh biarawan atau biarawati. Hanya saja tidak sebulan penuh seperti umat Islam.

"Puasanya hari ini saja kan?!"
"Tidak, tapi selama satu bulan penuh." Saya yakin akan ada pertanyaan berikutnya.
"Hhaahh... satu bulan?!" Ekspresi keterkejutan terpancar jelas dari matanya yang membesar. " Apa badanmu nanti ga sakit? Bagaimanapun, tubuh kan butuh kekuatan dari makanan kan?! Dan kamu tetap beraktivitas seperti biasanya!" Pertanyaan beruntun seperti ini sudah saya duga akan keluar.
"Aah... tidak apa-apa. Berpuasa kan saat siang, kalau malam bisa makan seperti biasa. Saya sudah berpuasa sejak umur 8 tahun lho... Kamu lihat sendiri kan, sampai sekarang saya baik-baik saja?!" Saya mencoba menghapus kekhawatiran di wajahnya.
"Wah, rasanya susah dipercaya. Satu bulan berpuasa dengan aktivitas yang tidak berubah, tapi kondisi tubuh tetap baik-baik saja." Keheranan terpancar jelas dari wajahnya.

Hmm... Sepertinya saya harus menjelaskan secara logis, agar dia tidak memandang puasa sebagai rutinitas keagamaan yang tak masuk di akal.
"Ya, untuk beraktivitas kita memang butuh tenaga. Di beberapa bagian tubuh kan ada penumpukan lemak. Saat tidak ada makanan yang masuk, tubuh akan menggunakannya sebagai sumber tenaga. Penumpukan lemaknya akan berkurang, bisa menyehatkan badan kan?!" Mungkin saja dengan penjelasan seperti ini bisa diterima logikanya.

"Haa... masih susah saya percaya. Yang saya bayangkan, kalau tidak makan badan akan lemas dan tidak kuat bekerja." Raut tak percaya terpancar dari wajahnya.
"Ya sudah, bagaimana kalo kamu mencoba berpuasa saja?" Sambil tersenyum saya coba menantangnya. "Saya saja sudah melakukannya sejak kecil lho..."
"Aaa... Tidak, tidak. Rasanya saya tidak akan kuat seperti kamu." Dia tertawa sambil menggelengkan kepalanya.

Wednesday, July 22, 2009

Award dari Nana

Yuhuu... ada award nih. Kali ini dapat dari Nana.... Tkanx ya Na...

Berikutnya award ini saya teruskan buat Umi Rina dan Bunda Kayla. Diambil ya...

Saturday, July 04, 2009

You Are...

It was a glance when we first met
You surprised us with your gift at the second time
You even didn't mind when my kids called you 'Bunda'...

It was a very tough days
But you've made it easier
That you showed us how to through it all

Even when we felt all alone and lonely
You've made it full-surrounded
You've made it even comfort day by day

You, there's no matched words to figure you out
You, there's no perfect ways to pay you back
And with you, I found 'the heart-connection'

Just a simple wish,
May you will always in Allah's faith
May you will always be my 'Sister'
Here and after...

Especially for you, "Hontoni arigatou gozaimashita!!!"

Seorang sahabat (lebih dari sahabat, saudara mungkin lebih tepat), membuat puisi spesial itu. Yah, seperti juga dirinya dan anak-anaknya yang juga mendapat tempat spesial di hati saya.
Jazakillah khoir untuk persahabatan dan persaudaraan yang begitu indah ini, smoga Allah mempertemukan kita lagi ya...

"......Ya Allah, sungguh Engkau Maha Mengetahui bahwa hati ini telah bersatu padu dalam cinta kepada-Mu. Maka kokohkanlah ikatan hati ini ya Allah, abadikanlah kemesraannya, penuhilah seluruh hati ini dengan cahayaMu yang tak pernah padam...."

Thursday, May 28, 2009

Karton Menjadi Tissue

Akhir-akhir ini saya punya kebiasaan baru yaitu mengumpulkan kemasan bekas minuman yang terbuat dari karton/kertas. Bisa kemasan bekas susu, juice, kopi ataupun teh. Kenapa sih?? Karena ada supermarket yang bersedia menerima kemasan bekas tersebut untuk ditukarkan dengan tissue toilet. Sebenarnya saya sudah tahu info ini sejak awal-awal menetap di Tsukuba tapi baru akhir-akhir ini tergerak buat ngumpulin kemasan tersebut. Soalnya mulai sadar kalo cuma dibuang ke tempat sampah, kayaknya bakalan dihancurin aja. Tapi kalo kemasan bekas itu kita kumpulkan tentunya setelah dicuci bersih, lalu supermarket yang menerimanya akan mendaur ulang kemasan karton menjadi tissue.

Kelebihan tissue toilet hasil daur ulang ini, bisa langsung dibuang ke toilet tanpa khawatir akan menyebabkan toilet tersumbat atau mampet. Soalnya lembaran tissue akan hancur saat tersiram air jadi langsung masuk septic tank. Dan tempat sampah di kamar mandi jadi ga penuh ama tissue toilet kan?!

Hampir semua supermarket di Tsukuba (mungkin juga seluruh Jepang), menyediakan kotak sampah khusus untuk kemasan karton bekas. Tapi tidak semuanya memberikan feed back seperti pemberian tissue toilet itu. Kayaknya pemberian feed back ini perlu digalakkan deh, biar orang semakin sadar untuk mengurangi sampah.

Di Indonesia sudah ada program seperti ini belum ya??

Tindakan seperti ini mungkin tidak kelihatan pengaruhnya bila hanya dilakukan oleh beberapa orang. Tapi coba bayangkan kalau setiap keluarga memisahkan sampah yang bisa didaur ulang, berapa banyak sampah di muka bumi ini yang akan berkurang?? Kalau menunggu sampah itu terurai secara alami, prosesnya membutuhkan waktu puluhan bahkan ratusan tahun. Sementara itu aktivitas kita pasti menghasilakn sampah setiap hari, baik itu sedikit ataupun banyak. Tanpa proses daur ulang, pasti bumi ini akan penuh dengan sampah.

Ayooo selamatkan bumi kita dari sampah!!!

Inspired by : Deklarasi capres dan cawapres di TPA Bantar Gebang.

Friday, April 10, 2009

Kalo Obat Bisa Ngomong

"Kalo bulan bisa ngomong", itu judul lagu kan ya?! Nah, "kalo obat bisa ngomong" gimana lagi tuh?? Kejadiannya saat saya nguping pembicaraan dua wanita Jepang paruh baya.

Hayashi san : Aaa, kimochi warui! (perasaan ga enak nih!).:(
Endou san : Emang kenapa :-/
Hayashi san : Ga tau nih :-S, perut agak sakit.
Endou san : Ya udah, minum obat dong.
Hayashi san : Obat apa ya:-/ Suka bingung, kira-kira apa obat yang cocok buat sakit perut saya ini?
Endou san : Ya coba aja minum obat sakit perut, ntar kan terasa tuh efeknya. Baru ketahuan obat mana yang cocok.
Hayashi san : Ya itu :-?, coba kalo sebelum diminum obatnya ngomong. Itu
obat cocok atau ga buat saya? Soalnya udah tua begini, agak takut minum sembarangan obat.
Endou san : :))Hahahaha... ya nggak mungkin obat ngomong dulu sebelum kita minum. Ada-ada aja :))
*****

Kalo emang obat bisa ngomong, mungkin ga ada orang yang terjerat obat-obatan terlarang kali ya?! Soalnya sebelum digunakan, obatnya dah ngomong duluan, "8-XAwas Berbahaya!!!8-X"

Friday, March 13, 2009

Tag : I Don't Like It & Award

-- Tanpa mengurangi rasa hormat, untuk berikutnya saya tidak menerima lemparan tag atau PR. Kalo award, sesekali boleh deh :) --

Yang pertama award dulu. Alhamdulillah.... Makasih ya... :)

Dapat PR ini dari Umi Rina udah sebulan yang lalu deh rasanya tapi baru sekarang sempat dilengkapi. Udah nongkrong lama sih di draft :D Pada pengen tahu kan apa aja yang ga saya sukai? ! Let's start....!

I DON'T LIKE IT



Syarat-syarat dalam tag ini adalah sebagai berikut:
1.Buatlah daftar 10 hal dan kebiasaan (buruk) yang tidak disukai, namun apabila merasa terdapat lebih dari 10 hal/kebiasaan buruk yang tidak disukai maka silahkan ditulis semuanya.
2.Sebutkan juga alasan mengapa Anda tidak menyukai hal-hal/kebiasaan-kebiasaan tersebut.
3.Setelah selesai membuat daftar dan penjelasan seperti yang tertera pada poin 1 & 2, maka silahkan men-tag 10 blogger lainnya.--- I skipped this rule----

1. Orang yang bermuka dua. Di depan kita bermuka baik/manis, di belakang kita kebalikannya. Ga suka banget deh sama orang yang punya sifat seperti ini. Muka itu satu aja cukup, tapi berusahalah untuk selalu baik.

2. Sifat iri, dengki, riya dan tinggi hati. Rumput di halaman tetangga sering terlihat lebih hijau daripada di halaman sendiri. Tapi suatu saat rumput kita juga bisa jadi hijau kok. Kalo kurang hijau tetaplah disyukuri karena mungkin itu yang terbaik untuk kita saat itu.

3. Kebiasaan boros. Hemat itu pangkal kaya sedangkan boros itu dekat dengan mubadzir.

4. Dibohongi dan berbohong. Tahu kan rasanya dibohongin?! Ga enak banget deh kalo kita dibohongin sehingga saya pun berusaha ga akan berbohong.

5. Orang yang suka mencampuri urusan orang lain tanpa diminta. Selama ga diminta, berarti bukan hak kita untuk mencampuri. Bukannya ga perhatian, tapi kalo orang yang kita campuri urusannya ga ridho, kan bisa berabe tuh...?!

6. Terlalu banyak bercanda dan tertawa. Sesekali boleh aja bercanda dan tertawa. Kalo terlalu banyak bawaannya jadi ga bisa serius. Padahal waktu terus bergulir, tinggal berapa lama lagi yang tersisa buat kita??

7. Mendengar musik dengan volume yang keras. Ini nih yang berbeda dengan suami, beliau kalo dengar musik sukanya yang jelas suara bass, perkusi dll. Kalo saya lebih senang menikmati musik dengan volume yang kecil, kalo bisa cuma saya aja yang dengar. Itu membuat saya rileks.

8. Jalan-jalan tanpa tujuan yang jelas alias keluyuran. Sesuatu yang ga jelas tujuannya itu hanya membuat waktu terbuang percuma. Mendingan ngerjain yang bermanfaat aja deh.

9. Minuman bersoda seperti c*ca-c*la dan teman-temannya. Selain gampang bikin tenggorokan saya meradang, minuman bersoda juga dicurigai bisa mempercepat osteoporosis lho?! Mending minum air putih atau ocha/green tea aja, kan lebih menyehatkan.

10. Makanan fast food dan yang terlalu pedas. Fast food ga sesuai aja sama selera. Kalo pedas, perut saya yang ga kuat. Kalo ga sengaja makan yang pedas, efeknya langsung sering ke 'belakang' deh :D

Ok, PR-ku selesai ya...!


Sunday, March 01, 2009

Teuing ah!

Suami pernah meminta saya untuk belajar atau paling tidak mengerti dialog berbahasa Sunda. Ini berhubungan dengan keluarga di Bandung, yang kalo ngomong sering mencampur bahasa Indonesia-Sunda-Jawa. Tapi sejauh ini saya belum menindak lanjutinya dengan serius.

Saya : Mas, tadi ada telepon dari bapak D.
Suami : Trus dia bilang apa?:-/
Saya : Ga jelas tuh. Suara di teleponnya berisik dan ngomongnya pake bahasa Sunda lagi.:(
Suami :Emang dia ngomong apaan sih? Kok kamu ga ngerti?:-?
Saya : Bahasa sunda-nya yang jarang saya dengar, mungkin bahasa lemes/halusnya kali?!:-/ Ya udah, saya tutup aja teleponnya.:D
Suami : :-OHah???!! Makanya, belajar bahasa sunda yang benar atuh neng....!
Saya : Teuing ah....:- Lain kali, mas kasih pengumuman dulu deh... Pengumumannya, "Isteri saya tidak bisa berbahasa Sunda."
Suami :=))=))

-Selingan akhir pekan-