Monday, July 23, 2007

Final Book of Harry Potter Series

Kabarnya, tanggal 21 Juli kemarin penggemar Harry Potter (di berbagai belahan dunia) rela antri berjam-jam di depan toko buku untuk mendapatkan seri terakhir novel yang mengantarkan J.K Rowling menjadi penulis terkaya itu.$-)
Bagi yang belum sempat baca cerita lengkap Harry Potter and The Deathly Hallows, seperti saya....:D Hehehehe. Ga ada salahnya coba ngintip ringkasan ceritanya di situs ini. Jangan kaget kalo menemukan kisah yang tak terbayang sebelumnya. Seperti saya:-O, yang cukup kaget dengan background Albus Dumbledore dan rahasia hati Severus Snape.

Enjoy it guys....!

Saturday, July 07, 2007

Seventh of July'07

Berita online akhir-akhir ini banyak mengulas tentang angka 7.:-? Trus angka tersebut dikaitkan dengan keberuntungan sehingga banyak orang yang memanfaatkan moment tanggal 7-7-07. Ada yang menikah dan ada pula yang memanfaatkannya untuk tanggal lahir anak. Media ini memberitakan pernikahan yang membludak pada tanggal 7-7-07. Kalo yang ini memberitakan ibu-ibu hamil yang mengincar kelahiran tanggal 7-7-07 jam 7 untuk bayinya. Media ini juga mengulas berita seperti itu.">

Sepertinya yang paling banyak dimanfaatkan untuk hati pernikahan. Waah... pasti wedding organizer, perias pengantin dan usaha-usaha lain yang berhubungan dengan hal itu termasuk juga pak penghulu, hari ini sibuk banget. Dan tentunya ga sembarang sibuk tapi sibuk yang membawa keberuntungan. :D/

Kalo di Jepang sendiri, tanggal 7 bulan 7 memang setiap tahunnya ada peringatan Tanabata Matsuri. Peringatan itu diadakan tiap tahun, ga hanya tahun ini saja. Cerita Tanabata bisa dibaca di sini.

Tuesday, June 19, 2007

Panggil Saya Shinta

Lama ga posting, sekalinya posting ceritanya paanjaaang.... Semoga cerita ini ga membosankan. Kalo dirasa penat, rehat dulu atau main dulu ke blog lain trus jangan lupa balik ke sini lagi biar ga penasaran sama ending posting ini.
*****
Sebelum menginjakkan kaki di negeri sakura, saya membayangkan bahwa mungkin mayoritas orang Jepang akan menganggap aneh pada busana yang saya kenakan. Kala itu yang terpikir oleh saya, pasti banyak yang heran atau mungkin bertanya tentang busana. Wajar saja karena sedikit sekali orang Jepang (asli) yang muslim. Apalagi saat musim panas, mungkin mereka bakalan terheran-heran melihat cara berpakaian saya yang berbeda 180 derajat dengan orang-orang kebanyakan. Itu pikiran saya sebelumnya tapi setelah benar-benar menginjakkan kaki, tinggal dan bergaul dengan berbagai orang (tidak hanya orang Jepang asli tapi juga dari negara lainnya), ada hal lain yang mereka anggap aneh selain busana.


Yah, ada yang lain. Dan hal itu adalah "nama". Tidak hanya saya, tapi juga nama teman-teman Indonesia lainnya.

Keanehan itu bermula dari pengisian aplikasi mendapatkan eligibility untuk pengurusan visa saya. Sewaktu mengisi form tersebut, suami saya bertanya pada tutor-nya tentang hal-hal yang tidak dimengerti lalu juga minta dikoreksi apa-apa yang sudah diisi. Tutor-nya heran, kenapa nama saya yang diisi di dalam form tersebut tidak mencantumkan nama suami (baca : nama keluarga suami)? Waktu itu suami saya jawab (kalo ga salah), dia menulis nama saya sesuai dengan yang tercantum pada paspor. Tidak tahu juga, apakah tutor merasa jelas atau menganggap wanita Indonesia setelah menikah tidak harus mengikuti nama suami. Yang jelas, tidak ada pertanyaan lebih lanjut.

Berikutnya, sewaktu mendaftarkan diri di city office untuk mendapatkan ID card sebagai orang asing yang tinggal di Tsukuba (Jepang) dan mengurus asuransi kesehatan. Karena status visa saya yang dependent dengan visa suami, jadi harus mencantumkan hubungan antara kita berdua. Ya jelas hubungannya suami-istri dong ya... ?! Petugasnya sempat menatap aneh pada kita berdua waktu mengecek form yang kita isi (pas bagian relation with applicant). Tapi ga bertanya, mungkin maklum karena kita orang asing.

Naah... Pengalaman yang seru terjadi waktu saya mengikuti kelas bahasa Jepang. Mau tahu gimana serunya??? Cerita serunya silahkan dibaca setelah image berikut.


Di setiap level yang saya ikuti, nama selalu menjadi topik diskusi awal kelas. Kebetulan waktu itu hanya saya yang dari Indonesia. Supaya memudahkan, setiap orang yang ada di kelas (termasuk sensei) harus menulis nama dan negara asalnya pada name tag ukuran besar yang diletakkan didepan meja. Nama ditulis dalam huruf katakana dan Latin (Romaji) atau katakana dan kanji (bagi peserta yang negaranya juga menggunakan huruf kanji). Sebagian besar peserta berasal dari China dan Korea Selatan. Nama mereka kalo ditulis tidak sampai memenuhi kertas name tag yang disediakan walaupun sudah ditulis dengan huruf katakana. Misalkan Lou Ming Chen atau Hou En. Singkat kan?! Gimana dengan nama saya?? Kalo nama saya ditulis dengan katakana jadinya panjaaaang dan bikin kertas name tag jadi penuh.

Karena nama saya lain sendiri, sensei pernah tanya nama keluarga saya yang mana? Nama depan atau nama belakang? Formalnya memang nama keluarga yang dipake untuk panggilan atau berkenalan. Saya jawab aja, kalo saya ga pake nama keluarga dan sensei (juga teman-teman) bisa panggil saya Shinta.

Okashii! (Aneh) menurut mereka. Kenapa ga pake nama keluarga dari suami? Suami juga ga pake nama keluarga. Saya jelasin bahwa orang Indonesia banyak yang ga punya nama keluarga. Meskipun ada penduduk daerah/suku tertentu yang memang mewariskan nama keluarganya. Seperti orang Batak, Ambon, Manado dan suku lainnya yang punya dan mewariskan nama keluarga bagi keturunannya. Sekarang mungkin sudah banyak anak-anak yang menyandang nama keluarga (biasanya diambil dari nama belakang ayahnya). Tetapi pemberian nama keluarga (di Indonesia) belum ada peraturan yang mengharuskan. Pake nama keluarga boleh-boleh saja tapi kalau tidak dipake pun tidak masalah. Kayaknya mereka masih menganggap aneh tentang fenomena nama keluarga di Indonesia sehingga bikin mereka ingin tahu lebih jauh.

Sensei bilang, nama keluarga itu juga menandakan siapa nama orang tua (biologis) kita. Kalo tidak ada nama keluarga, gimana orang bisa tahu siapa orang tua kita? Ooo... kalo masalah itu, di Indonesia setiap anak harus punya akte kelahiran. Itu salah satu dokumen penting yang harus dimiliki. Di situ akan tertera siapa orang tua kandungnya.

Masih terheran-heran dengan penjelasan saya, sensei bertanya lagi. Berarti 2 kata itu semuanya nama Shinta san? Ya, semuanya nama saya. Apa mayoritas orang Indonesia namanya terdiri dari 2 kata? Soalnya nama orang Jepang terdiri dari 2 kata, given name and family name. Saya jawab, tidak selalu 2 kata karena banyak juga orang Indonesia yang namanya lebih dari 2 kata. Dan yang hanya satu kata juga ada. Hahh?? Kayaknya sensei dan teman-teman jadi bingung.

Tahu Dewi fujin? Ratna Sari Dewi (janda mendiang presiden Soekarno) di Jepang dipanggil Dewi fujin. Artinya madam Dewi. Suaminya kan presiden Indonesia yang pertama dan namanya Soekarno. Hanya satu kata, tanpa nama keluarga. Yah begitulah nama orang Indonesia.

Trus sensei pengen tahu juga aturan nama teman-teman lainnya. Jadi tambahan pengetahuan juga nih buat saya. Orang China dan Korea juga mewarisi nama keluarga. Hanya saja tidak seperti orang Jepang (dan orang-orang Barat mungkin termasuk juga Afrika), wanita China juga Korea yang sudah menikah tetap membawa nama keluarga sewaktu gadisnya. Jadi tidak mengikuti nama keluarga suami. Nama keluarga suami diwariskan kepada anak-anaknya.

Suami saya pernah bertanya, kenapa saya tidak memakai namanya dibelakang nama saya kalau menulis surat atau apa saja yang perlu mencantumkan nama (selain dokumen resmi)? Yah, saya lebih suka aja memakai nama saya sendiri tanpa embel-embel suami. Demikian juga kalo berkenalan. Ini hanya masalah kesukaan aja kok. Ada lho teman yang kalo berkenalan menyebutkan nama suaminya. Misalkan, kenalkan saya bu Agung. Maksudnya namanya suaminya Agung. Namanya sendiri tidak disebutkan. Kalo saya selalu menyebutkan nama saya sendiri. Kalo ditanya, istrinya siapa ya? Atau, suaminya yang mana ya? Baru deh saya menyebutkan nama suami. Saya bukan bermaksud tidak menghargai suami tetapi ingin orang mengenal saya apa adanya tanpa dikaitkan dengan embel-embel suami. Toh, tanpa embel-embel tetap aja akhirnya saya akan dikaitkan dengan suami. Karena dalam pernikahan suami adalah pakaian istri dan begitu pula sebaliknya.

Jadi teringat cerita salah seorang teman. Kebetulan dia memakai nama belakang ayahnya. Mungkin orang tuanya ingin mewariskan nama keluarga. Tapi setelah menikah timbul konflik batin. Menurut dia, ada perasaan sedih ketika menulis nama dan mengganti nama belakangnya dengan nama suami. Kalo tetap menulis nama ayahnya ntar bisa dikira itu nama suaminya (kalo orang yang tidak kenal). Kalo dihilangkan, kok ya jadi sedih.... Akhirnya dia menyiasati dengan tetap menuliskan inisial nama ayahnya baru diikuti nama suami. Lagi-lagi karena tidak ada aturan khusus tentang penamaan di negara kita.

Hal seperti itu tidak bermasalah bagi kaum lelaki, karena tidak terlalu berpengaruh. Saya sempat berpikir, kalau nanti punya anak perempuan tidak perlu memakai nama belakang ayahnya karena akan berubah ketika dia menikah kelak. Tapi suami saya kira-kira setuju ga ya??

Sunday, June 03, 2007

"Perhatian"

Ketika sibuk menyiapkan bahan presentasi, berjam-jam duduk di depan komputer untuk menghasilkan slide yang eye catching dan menarik, tiba-tiba pundak mendapat pijitan lembut. Pijitan yang meredakan ketegangan, membuat pikiran kembali rilkes. Tangan siapakah yang memberi pijitan itu?? Ah, rupanya tangan sensei.

"Mada ganbatte imasu ka? (masih berusaha ya?)" Tanya beliau.
"Hai."
"Please, try your best!" Beliau berlalu, kembali ke ruangannya.

Nyess.... seperti dahaga yang mendapat siraman air. Seperti mendapat tambahan energi baru untuk melanjutkan aktivitas. Itulah salah satu bentuk perhatian yang ditunjukkan Fukushima sensei (advisor suami saya di kampus).
*****

Siapa sih yang ga butuh perhatian?! Saya rasa semua tentu membutuhkannya. Mulai dari bayi, anak-anak, remaja sampai manula. Lihatlah betapa cerianya anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan orang-orang yang penuh perhatian. Bahagianya hati kakek-nenek ketika masih ada yang mau dengan sabar mendengar keluh-kesah dan membesarkan hatinya. Seperti kebahagian seorang istri/ibu yang mendapat perhatian dari suami dan anak-anaknya pada suatu moment. Ataupun perhatian dari sahabat-sahabat yang ditengah kesibukkannya masih ingat hari spesial kita.

Lihat juga, apa yang terjadi bila seseorang tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari lingkungannya?! Mungkin sebagian ada yang tetap survive namun tak sedikit yang hidupnya menjadi kacau.

Mungkin kalau dikategorikan, saya cenderung memasukkan "perhatian" ke dalam kategori kebutuhan primer. Kenapa?? Karena hal ini adalah kebutuhan dasar yang diperlukan untuk kelangsungan hidup. Bukan hanya sekedar hidup melainkan hidup yang memiliki makna dan tujuan. Seorang teman juga pernah berkata, perhatian (dari ataupun untuk kita) adalah salah satu bukti eksistensi di dalam lingkungan. Saya pikir, betul juga. Buat yang belum diperhatikan, jangan marah ya.... Berarti perlu usaha lagi supaya dianggap eksis.

Out of above, yang tidak kalah penting adalah perhatian dari Sang Pencipta. Kita semua pasti membutuhkannya agar dapat senantiasa menjalani kehidupan sesuai navigasiNya. Berikan perhatian pada orang-orang di sekeliling kita karena perhatian bikin hidup menjadi lebih hidup.

Inspired by my luvly hubby

Friday, May 18, 2007

Bahasa Tulisan

Berawal dari posting-an cerita akhir pekan pada salah satu milist yang saya ikuti, posting-an tersebut kemudian mendapat kritik "tajam" dari salah satu anggota milist. Kritik pun mendapat respon dari anggota lainnya. Berlanjut dan berlanjut, hingga suasana milist menjadi cukup "panas"X(. Cooling down mulai terasa saat salah satu anggota (yang ikut membela penulis cerita) ingin undur diri dari milist dengan alasan agar tidak terjadi kekacauan yang lebih besar lagi.

Seketika posting-an di milist pun berganti menjadi untaian kata yang menunjukkan empati. Empati buat anggota yang ingin undur diri tadi. Semua menyayangkan keputusan itu dan berusaha mencegahnya. Saya kurang tahu ending masalah ini karena yang bersangkutan sendiri, beberapa hari ini ga muncul di milist.
*****

Berkomunikasi di dunia maya, mungkin sebagian besar kita lakukan dengan bahasa tulisan. Mungkin sesekali ada juga yang berkomunikasi dengan bahasa lisan tetapi tidak sebanyak bahasa tulisan. Apa yang disampaikan melalui tulisan kadang kala bisa menghasilkan beda persepsi antara penulis dan pembaca. Sepanjang perbedaan persepsi tersebut masih bisa diatasi, tentu tidak akan jadi masalah. Namun bila perbedaan itu ditanggapi dengan emosi yang sedang tidak stabil, bisa-bisa jadi berabe....:-? Ujung-ujungnya malah berantem. Kan kacau tuh?!

Itulah kejadian di milist (yang saya ikuti tersebut). Kejadian itu mengingatkan saya, mungkin saja tulisan-tulisan saya (baik yang di-posting di blog ini maupun media lain) pernah menyinggung atau juga membuat blogers yang setia mengunjungi blog ini jadi tak enak hati. Untuk semuanya itu, dari lubuk hati yang paling dalam saya mohon maaf yang sebesar-besarnya@};-@};-. Saya menulis tak ada maksud untuk menyakiti hati orang lain. Saya menulis hanya ingin berbagi info, pengalaman, cerita dan apa yang pernah terbersit di pikiran saya.

Have nice week end guys! For everybody in the homeland, have nice long week end! :x<:-P

Wednesday, May 09, 2007

Moshi-moshi

Pukul 20.30-an, sedang santai sendirian nonton TV.
Kriing..... (suara telepon).

Saya : "Moshi-moshi, Shinta desu...."
Penelepon yang entah di mana : .... hening tanpa suara....
Saya : "Moshi-moshi....."
Penelepon yang entah di mana :... masih tanpa suara....
Saya : :-/
Saya : "Halo... Siapa ya??" PD aja pake bahasa Indonesia.
Penelepon yang entah di mana : "Saya Soni, bla.. bla....."
Ternyata temannya suami saya yang baru datang dari Bandung. Berhubung orang yang dicari belum pulang, saya suruh telepon lagi aja besok.

Besoknya, pukul 9-an.
Suami masih di rumah soalnya mau berangkat abis dhuhur aja, katanya. Sedang asyik baca-baca berita online tiba-tiba...
Diing...! (muncul private message YM buat suami dari Soni). Kebetulan ID YM suami sedang available. Yang punya ID mendatangi, saya pun menyingkir (untuk ngintip dari belakang):D

.....(Obrolan via YM)....
Soni : "tadi malam saya telepon, yang terima Shinta....."
Suami : "Iya...:)"
Soni :"Terima teleponnya pake bahasa Jepang. Meni lancar, fasih deui. Kirain orang Jepang?!"
Suami ::D

...Out of YM...
Saya : "Baru ngomong "moshi-moshi" aja dah dikirain... Hiperbol banget deh ;))"

....Back to YM....
Soni : "Kumaha carana supaya lancar gitu?"
Suami : "Eta mah gampang...... Sering-sering makan makanan Jepang aja."
Soni ::-/
Suami : "Lupakan dulu cireng, batagor, peuyeum. Biar lidahnya jadi fasih :D"
Soni :=))=))

Thursday, May 03, 2007

Golden Week? Dah Lewat Tuh!

Minggu ini waktunya liburan golden week di Jepang. Sebagian besar orang yang tinggal di Jepang (Jepang asli atau tinggal sementara) memanfaatkan liburan ini untuk melancong.

Kalau saya, masa liburan golden week untuk melancong udah lewat:P Soalnya 3 minggu kemarin hampir tiada hari tanpa melancong bersama sang tamu. Ga cuma melancong tapi juga sekalian wisata kuliner nyobain makanan Jepang (tentunya yang "aman" dimakan). Jadi sekarang aji mumpung nih. Mumpung liburan, waktunya untuk puas-puasin jalan-jalan istirahat. Bisa browsing baca-baca artikel yang belum sempat terbaca. Bisa maen (baca : silaturahmi) ke tetangga. Bisa ngerapiin box pakaian soalnya dress code dah berubah nih#:-S Pakaian yang ga diperlukan harus dimuseumkan dulu. Trus, bisa nyobain resep di dapur mungil. Pokoknya bisa ngelakuin aktivitas yang kemarin-kemarin ini sempat diabaikan. Waktu seminggu ini, diupayakan bermanfaat semaksimal mungkin.

Berikut ini sebagian tempat menarik yang sempat kami kunjungi.

Bunga tulip lengkap sama kincir anginnya, di
Kasumigaura General Park (Tsuchiura). Kalau diberi istilah "Holland van Jepun" cocok kali ya?!;;)

Tempat lainnya Kamakura. Ada kemiripan antara Kamakura dan Kyoto, sama-sama banyak
temple dan shrine juga kota bersejarah.

Di Kamakura
ada jalan yang antara lajur kiri dan kanan dipisahkan oleh jajaran pohon sakura. Diantara pohon sakura itu juga ada jalan khusus untuk pejalan kaki. Namanya Dankazura. Uniknya, semakin mendekati shrine... (lupa namanya) lebarnya semakin sempit. Yang jelas, jalan ini pasti cantik banget kalau dikunjungi sewaktu sakura berbunga.

Selain itu ada juga yang namanya Komachi Shopping Town. Banyak penjual makanan yang menyediakan sample, jadi bisa nyicip gatis=P~ Tempat ini hampir mirip jalan Malioboro, Jogja tapi lebih crowded. Jadi ingat jaman di Jogja deh jadinya;)

Thursday, April 26, 2007

Jam Karet + Bebek Angsa

Tadi malam ada makan-makan dalam rangka perpisahan salah satu teman yang mau pulang ke Indonesia. Saya dan suami ikutan datang. Tapi tamu di rumah kami ga mau ikut karena takut dingin, katanya. Ya udah, tamunya tinggal di rumah. Emang sih.... cuaca lagi ga menentu nih. Biasanya hari gini dah hangat, ga perlu nyalain heater. Nyatanya di rumah kami kalo malam masih pake heater, soale tamu kami itu kedinginan. Kalo buat saya dan suami, sekarang chodo ii. Ga terlalu dingin ga terlalu panas.

Jadi datanglah kami ke acara itu. Jam 19.20 tet, kami sampai di tempat acara. Ada beberapa teman yang udah datang juga. Menunggu dan menunggu bikin saya jadi tambah lapar, soalnya sengaja ga makan sebelum berangkat. Di undangan, acaranya mulai jam 19.30, karena persiapan belum beres trus sambil nunggu teman-teman yang lain juga akhirnya molor jadi jam 20.00. Celakanya, yang diundang ga hanya sesama orang Indonesia aja. Ada orang Jepang juga.

Orang itu datang bersama istrinya. Dia ternyata beberapa tahun yang lalu pernah jadi konsultan masalah peningkatan produksi padi di Indonesia. Udah pake jasa konsultan gitu, kenapa masih import beras juga ya?? Naah... waktu memperkenalkan diri, orang itu sempat nyindir. Dia bilang, saya kira "jam karet" cuma ada di Indonesia rupanya di Jepang juga ada ya?! O iya, kayaknya dia pernah tinggal lama di Indonesia soalnya suami istri itu lancar berbahasa Indonesia. Ga tau deh, waktu itu muka kita kaya apa warnanya pas disindir begitu. Tapi kita-kita tetap cengengesan aja......

Trus makan-makan deh. Menunya selera Indonesia lho.... Soalnya yang masak kita-kita juga (kecuali bapak-bapak).

Pas mau pulang, orang itu ngomong lagi. Ya... basa-basi gitu deh. Ngucapin makasih, makanannya enak, natsukashii aji Indonesia no ryouri trus senang bisa ketemu banyak orang Indonesia. Dan terakhirnya, dia ngajak nyanyi sama-sama. Tebakan saya, kayaknya nyanyi lagu Begawan Solo deh! Lagu itu kan banyak dikenal dan disukai sama orang Jepang. Eh...rupanya, salah! Yang dinyanyiin lagu Potong Bebek Angsa. Setelah sekian lama ga denger itu lagu, taunya diajak nyanyi lagu itu sama orang Jepang. Ya udah, kita semua nyanyi sambil ketawa-ketiwi.

Mau mengingat-ingat dulu, kapan ya terakhir saya denger dan nyanyiin lagu itu??:-?


Note :
chodo ii : pas, cukup baik.
natsukashii aji Indonesia no ryouri : ungkapan yang menyatakan udah lama ga nyobain makanan Indonesia.

Wednesday, April 18, 2007

Mistranslate

Istilah bahasa asing bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kadang kala terdengar agak aneh. Sering kali kita tetap menggunakan istilah bahasa asing tersebut dalam percakapan sehari-hari walaupun ada terjemahannya. Contohnya seperti HaPe (Hand Phone), dalam bahasa Indonesia disebut "telepon genggam" tapi orang-orang (termasuk saya) tetap aja menyebutnya Hape.

Berikut ini ada sedikit cerita tentang terjemahan yang terdengar aneh atau mungkin bisa disebut juga terjemahan yang salah.

*****
Kira-kira dua minggu yang lalu saya diminta mewawancarai seseorang (perempuan) untuk mengecek (level) kemampuan berbahasa Indonesia. Yang saya cek adalah orang Jepang yang sebelumnya sudah pernah belajar dan tinggal di Indonesia:)

Pertanyaannya mulai dari siapa namanya, lalu saya pun memperkenalkan diri trus ditambah basa-basi nanyain kabar. Namanya Ibu Oka**** Trus berlanjut ke pertanyaan berikut ini.
Saya : "Sejak kapan ibu belajar bahasa Indonesia?"
Oka**** :"Saya belajar waktu saya tinggal di Jakarta."
Saya : "Oo... ibu sebelumnya pernah tinggal di Jakarta ya?!"
Oka**** : "Ya, saya tinggal di Jakarta Selatan."
Saya : "Berapa lama ibu tinggal di Jakarta?"
Oka**** : "Setengah empat tahun."
Saya : "Haa...:-/ Maksud ibu?" Sambil mencoba mengecek kemampuannya untuk menjelaskan statement yang dia sebutkan.
Oka**** : "Iya, empat setengah tahun." Keukeuh sama jawabannya.:-

Kelihatannya dia sulit menjelaskan jadi terpaksa pertanyaannya diganti deh....
Saya : "Waktu itu, tahun berapa ibu pindah dari Jepang ke Indonesia?"
Oka**** : "Tahun 1994."
Saya : "Pas musim apa?"
Oka**** : "Musim gugur."
Saya : "Lalu kapan kembali ke Jepang lagi?"
Oka**** : " Musim semi tahun 1998."
Saya : "Wakarimashita...... ";))

Lanjut sama pertanyaan berikutnya ya...
Saya : "Ibu ke sini naik apa?"
Oka**** : "Naik kereta."
Saya : "Berapa lama perjalanannya?"
Oka**** : "Hmm... 25 menit. Saya naik kereta lokal jadi cukup lama."
Saya : "Ibu berangkat dari rumah menuju stasiun jam berapa?"
Oka**** : "Kira-kira jam setengah...... Juichi ji han:-/, bahasa Indonesianya jam setengah dua belas bukan ya?!" Dia balik bertanya.
Saya : "Ya, betul sekali."
Trus lanjut sama pertanyaan lain yang lebih menuntut dia supaya bicara lebih banyak.

Ternyata ibu Oka**** itu menyamakan cara menyebutkan jam dan tahun. Kalau jam 11.30 memang biasa disebut setengah dua belas. Tapi 3,5 tahun tidak lazim disebut setengah empat tahun.
*****

Suami saya baru dapat kenalan baru, orang Jepang yang pernah tinggal di Indonesia juga. Trus dia ngajak makan malam sama-sama, istrinya juga ikut jadi saya diajak juga (kalo ditawari makan, saya sih nggak nolak....:P). Singkat cerita, kita janjian ketemu di Tsukuba Center. Ndilalah... Istrinya mendadak ga bisa ikut. Ya udah, setelah ngomong-ngomong sebentar akhirnya kita pergi ke restoran sushi tanpa istrinya.

Kita makan sambil ngobrol tentang Indonesia. Mungkin lebih tepatnya orang itu bernostalgia, menceritakan pengalaman-pengalamannya waktu tinggal di Indonesia. Bahkan dia dan istrinya juga menikah di Jakarta. Tapi nikahnya tetap dengan orang Jepang, bukan orang Indonesia ;)

Trus dia cerita bahwa setahun yang lalu dia dan istrinya liburan ke Singapura. Pengennya mampir juga ke Jakarta.
Dia : "Tapi istri saya takut ke Indonesia waktu itu."
Suami : "Eh... Kenapa takut?":-/
Dia : "Karena waktu itu sedang ada ayam masuk angin."
Suami & saya : "Hee... Apa?":-O
Saya : "Maksud bapak, tori infuruenza? Flu burung?"
Dia : "Oo... tori infuruenza kalo diterjemahkan jadi flu burung ya?! Kirain, ayam masuk angin.":DB-)
Kita (termasuk dia juga) : "Hahaha...... "=))
*****


Note :
  • Wakarimashita : sudah mengerti.
  • Juichi ji han : jam 11.30.
  • tori infuruenza : flu burung dalam ejaan bahasa Jepang.