"Cinta orangtua pada anak itu otomatis... Tapi cinta anak kepada orangtua itu tidak otomatis.. Maka harus kita bangun...
Nggak pengen khan.. Ketika kita tua kemudian kita dibenci anak2 kita... Maunya khan kita disayang dan diperhatikan anak2 kita...
So, investasi kita adalah saat mereka kecil... Sayangi mereka dan mereka akan menyayangi kita saat kita tua nanti. Inshaa Allah.."
(Supriyati -*Forsilam edisi hari ibu*-)
Sunday, December 22, 2013
Wednesday, November 27, 2013
Pengamen Jalanan
Sering lihat pengamen jalanan kan?! So pasti. Pengamen hampir selalu ada di setiap tempat. Di dalam kendaraan umum, di persimpangan lampu merah ataupun di beberapa warung makan. Dari yang usia anak-anak sampai orang tua.
Awalnya saya berpikir, orang-orang menjalani profesi sebagai pengamen demi sesuap nasi. Mereka tidak punya keahlian untuk pekerjaan lain sehingga terpaksa mengamen untuk menafkahi hidupnya. Itulah kenapa musik dan lagu yang mereka nyanyikan terkadang tidak terdengar bagus. Alat musik yang mereka gunakan kadang juga sangat sederhana sekali. Ada yang berupa kecrekan dari tutup-tutup botol yang diberi pegangan kayu, atau botol plastik bekas yang diisi (seperti) pasir kaca. Namun ada juga yang menggunakan alat musik sebenarnya seperti gitar, harmonika, suling serta perkusi. Apapun alat musik yang mereka gunakan, sebutannya tetap pengamen.
Sekarang pengamen bukan hanya untuk mecukupi nafkah tapi banyak yang menjadikannya sebagai batu loncatan untuk menjadi penyanyi profesional. Lihat saja ketika audisi pencarian bakat, tak sedikit pengamen yang ikut mendaftar. Walaupun dengan kemampuan yang sangat pas-pasan mereka percaya diri mengikuti audisi tersebut. Mereka berharap walaupun tidak terpilih sebagai finalis, paling tidak wajahnya dan penampilannya ditonton banyak orang sehingga bisa menjadi terkenal (selebritis baru).
Fenomena pengamen jalanan yang menjadi juara ajang pencarian bakat, sedikit banyak memotivasi para pengamen lainnya. Namun sejauh ini saya tidak melihat karier yang cemerlang setelah pengamen itu menjadi juara dan terkenal. Materi yang mereka dapatkan mungkin lebih daripada sebelumnya. Tapi sebagai penyanyi, mereka tidak mempunyai master piece berupa album ataupun lagu single yang disukai dan dikenang banyak orang. Itu mungkin saja karena mereka tidak memiliki bekal yang cukup untuk bersaing menjadi penyanyi profesional.
Awalnya saya berpikir, orang-orang menjalani profesi sebagai pengamen demi sesuap nasi. Mereka tidak punya keahlian untuk pekerjaan lain sehingga terpaksa mengamen untuk menafkahi hidupnya. Itulah kenapa musik dan lagu yang mereka nyanyikan terkadang tidak terdengar bagus. Alat musik yang mereka gunakan kadang juga sangat sederhana sekali. Ada yang berupa kecrekan dari tutup-tutup botol yang diberi pegangan kayu, atau botol plastik bekas yang diisi (seperti) pasir kaca. Namun ada juga yang menggunakan alat musik sebenarnya seperti gitar, harmonika, suling serta perkusi. Apapun alat musik yang mereka gunakan, sebutannya tetap pengamen.
Sekarang pengamen bukan hanya untuk mecukupi nafkah tapi banyak yang menjadikannya sebagai batu loncatan untuk menjadi penyanyi profesional. Lihat saja ketika audisi pencarian bakat, tak sedikit pengamen yang ikut mendaftar. Walaupun dengan kemampuan yang sangat pas-pasan mereka percaya diri mengikuti audisi tersebut. Mereka berharap walaupun tidak terpilih sebagai finalis, paling tidak wajahnya dan penampilannya ditonton banyak orang sehingga bisa menjadi terkenal (selebritis baru).
Fenomena pengamen jalanan yang menjadi juara ajang pencarian bakat, sedikit banyak memotivasi para pengamen lainnya. Namun sejauh ini saya tidak melihat karier yang cemerlang setelah pengamen itu menjadi juara dan terkenal. Materi yang mereka dapatkan mungkin lebih daripada sebelumnya. Tapi sebagai penyanyi, mereka tidak mempunyai master piece berupa album ataupun lagu single yang disukai dan dikenang banyak orang. Itu mungkin saja karena mereka tidak memiliki bekal yang cukup untuk bersaing menjadi penyanyi profesional.
Monday, November 04, 2013
Mocaf Sebagai Pengganti Terigu
Modified cassava flour (Mocaf), tepung hasil olahan singkong yang diproses dengan memodifikasi sel singkong melalui fermentasi yang melibatkan mikroba (bakteri asam laktat). Tepung ini digunakan sebagai salah satu alternatif pengganti terigu. Sekarang sudah beredar di pasaran, dikenal dengan nama Mocal ataupun Mocaf.
Berbeda dengan tapioka yang bertekstur licin karena prosesnya berupa ekstraksi pati dari umbi singkong, tepung mocaf memiliki tekstur yang lebih mirip terigu. Dan karena aktifitas mikroba pada saat fermentasi, rasa pahit dan aroma khas singkong (yang disebabkan oleh kandungan asam sianida / HCN) pada tepung mocaf dapat dihilangkan.
Seperti halnya kedelai yang mengalami peningkatan nilai gizi setelah difermentasi menjadi tempe, maka begitu pula dengan singkong yang berubah menjadi tepung mocaf. Tepung mocaf memiliki kandungan serat yang tinggi (dibandingkan gandum) sehingga dapat mengurangi penyerapan kolesterol, mengencerkan toksin dan meningkatkan produksi asam lemak rantai pendek. Karena dihasilkan melalui fermentasi, tepung mocaf juga mempunyai efek prebiotik yang membantu pertumbuhan mikroba di dalam saluran pencernaan sehingga sistem pencernaan menjadi lebih sehat. Untuk karbohidrat, kandungan mocaf setara dengan tepung terigu/gandum namun bebas gluten.
Gluten adalah jenis protein dari olahan serealia seperti gandum, barley, rye dan oats. Gluten biasanya dihindari oleh penderita diabetes, autis dan celiac disease (penyakit intoleransi terhadap gluten). Pada penderita autis, tubuhnya tidak bisa menghasilkan enzim pencerna gluten. Akibatnya protein ini akan menjadi komponen yang bersifat toksik/racun dan mengganggu fungsi otak, sistem imunitas serta menimbulkan gangguan perilaku. Jadi, mocaf adalah pilihan yang baik untuk makanan bebas gluten bagi penderita penyakit tersebut.
Sumber : Booklet "Mengenal Tepung Mocaf".
Berbeda dengan tapioka yang bertekstur licin karena prosesnya berupa ekstraksi pati dari umbi singkong, tepung mocaf memiliki tekstur yang lebih mirip terigu. Dan karena aktifitas mikroba pada saat fermentasi, rasa pahit dan aroma khas singkong (yang disebabkan oleh kandungan asam sianida / HCN) pada tepung mocaf dapat dihilangkan.
Seperti halnya kedelai yang mengalami peningkatan nilai gizi setelah difermentasi menjadi tempe, maka begitu pula dengan singkong yang berubah menjadi tepung mocaf. Tepung mocaf memiliki kandungan serat yang tinggi (dibandingkan gandum) sehingga dapat mengurangi penyerapan kolesterol, mengencerkan toksin dan meningkatkan produksi asam lemak rantai pendek. Karena dihasilkan melalui fermentasi, tepung mocaf juga mempunyai efek prebiotik yang membantu pertumbuhan mikroba di dalam saluran pencernaan sehingga sistem pencernaan menjadi lebih sehat. Untuk karbohidrat, kandungan mocaf setara dengan tepung terigu/gandum namun bebas gluten.
Gluten adalah jenis protein dari olahan serealia seperti gandum, barley, rye dan oats. Gluten biasanya dihindari oleh penderita diabetes, autis dan celiac disease (penyakit intoleransi terhadap gluten). Pada penderita autis, tubuhnya tidak bisa menghasilkan enzim pencerna gluten. Akibatnya protein ini akan menjadi komponen yang bersifat toksik/racun dan mengganggu fungsi otak, sistem imunitas serta menimbulkan gangguan perilaku. Jadi, mocaf adalah pilihan yang baik untuk makanan bebas gluten bagi penderita penyakit tersebut.
Sumber : Booklet "Mengenal Tepung Mocaf".
Friday, July 26, 2013
Cegah Wasir dengan Makanan Berserat
Beberapa hari yang lalu, penyakit wasir suami saya kambuh. Sudah lama juga penyakit ini tidak kambuh sehingga cukup membuat panik. Menurut suami saya, wasir yang kambuh kali ini terasa berbeda, terasa lebih merepotkan dan parah. Akhirnya kami pun periksa ke dokter umum. Benar saja, dokter mengkonfirmasikan kalau ini adalah wasir grade paling tinggi (parah). Suami saya disarankan untuk secepatnya periksa ke dokter spesialis bedah syaraf. Karena wasir yang seperti ini biasanya diatasi dengan jalan operasi.
Operasi?! Jalan itu adalah upaya yang paling dihindari oleh suami saya. Karena mendengar dari pengalaman banyak orang, operasi tidak menuntaskan wasir. Beberapa orang yang telah menjalani operasi, kembali menderita wasir di titik yang lain. Selain itu di daerah anus (dubur) juga terdapat pembuluh darah yang berhubungan dengan organ kelamin. Operasi wasir dikhawatirkan akan mengganggu kesehatan reproduksi.
Setelah ngobrol dengan salah satu tetangga yang pernah juga mengidap wasir yang parah, kami diajak berobat ke klinik avasin. Yaitu pengobatan dengan cara melancarkan kerja syaraf, dilakukan oleh dokter yang berpengalaman (avasinolog). Setelah menjalani terapi dan mengkonsumsi obat herbal dari klinik tersebut, suami saya merasa lebih enakan. Tapi memang perubahannya tidak bisa instant.
Selain berobat, kami juga mendapat info dari dokter di situ tentang pencegahan wasir. Yaitu dengan memperbanyak konsumsi makanan berserat serta air putih yang cukup.
Makanan berserat sangat diperlukan untuk mengempukkan tinja sehingga tidak perlu mengedan saat buang air besar. Mengedan akan menekan pembuluh darah di sekitar anus sehingga menyebabkan pembengkakan (wasir). Sumber serat bisa diperoleh dari buah, sayur dan agar-agar. Usahakan bahan tersebut selalu ada saat makan dan dikonsumsi 30 menit-1 jam sebelum makanan utama. Itulah kenapa salada disajikan / dinikmati sebelum makan.
Untuk buah, lebih baik dikonsumsi sebagai buah potong daripada dibuat juice. Karena proses pencernaan buah potong berawal dari campuran dengan enzim-enzim yang tersapat di dalam air ludah. Proses ini dapat lebih melancarkan pencernaan dan penyerapan di dalam usus. Dan untuk kesehatan jangka panjang, hindari mengkonsumsi suplemen serat sintetis seperti V***ta karena sumber serat alami tetaplah yang terbaik.
Semoga bermanfaat.
Operasi?! Jalan itu adalah upaya yang paling dihindari oleh suami saya. Karena mendengar dari pengalaman banyak orang, operasi tidak menuntaskan wasir. Beberapa orang yang telah menjalani operasi, kembali menderita wasir di titik yang lain. Selain itu di daerah anus (dubur) juga terdapat pembuluh darah yang berhubungan dengan organ kelamin. Operasi wasir dikhawatirkan akan mengganggu kesehatan reproduksi.
Setelah ngobrol dengan salah satu tetangga yang pernah juga mengidap wasir yang parah, kami diajak berobat ke klinik avasin. Yaitu pengobatan dengan cara melancarkan kerja syaraf, dilakukan oleh dokter yang berpengalaman (avasinolog). Setelah menjalani terapi dan mengkonsumsi obat herbal dari klinik tersebut, suami saya merasa lebih enakan. Tapi memang perubahannya tidak bisa instant.
Selain berobat, kami juga mendapat info dari dokter di situ tentang pencegahan wasir. Yaitu dengan memperbanyak konsumsi makanan berserat serta air putih yang cukup.
Makanan berserat sangat diperlukan untuk mengempukkan tinja sehingga tidak perlu mengedan saat buang air besar. Mengedan akan menekan pembuluh darah di sekitar anus sehingga menyebabkan pembengkakan (wasir). Sumber serat bisa diperoleh dari buah, sayur dan agar-agar. Usahakan bahan tersebut selalu ada saat makan dan dikonsumsi 30 menit-1 jam sebelum makanan utama. Itulah kenapa salada disajikan / dinikmati sebelum makan.
Untuk buah, lebih baik dikonsumsi sebagai buah potong daripada dibuat juice. Karena proses pencernaan buah potong berawal dari campuran dengan enzim-enzim yang tersapat di dalam air ludah. Proses ini dapat lebih melancarkan pencernaan dan penyerapan di dalam usus. Dan untuk kesehatan jangka panjang, hindari mengkonsumsi suplemen serat sintetis seperti V***ta karena sumber serat alami tetaplah yang terbaik.
Semoga bermanfaat.
Tuesday, June 25, 2013
Bersepeda
Pagi ini ada pemandangan yang tidak biasa di depan rumah saya. Di musim liburan sekolah seperti sekarang ini, biasanya beberapa anak tetangga bersepeda bersama-sama sampai melewati depan rumah saya. Pagi ini, tidak hanya anak-anak saja tetapi ada seorang ibu dan putri kecilnya yang membonceng di sepeda. They surprised me!
Pemandangan seperti itu sangat jarang saya lihat di sini. Sewaktu di Jepang, hal itu justru biasa. Para ibu rumah tangga biasanya mengendarai sepeda untuk pergi dalam jarak yang tidak jauh, seperti berbelanja ataupun keperluan lainnya. Dan sering kali (selalu) membawa serta anaknya, bila sang anak belum sekolah atau tidak dititipkan di tempat penitipan anak.
Sepeda untuk membawa anak, biasanya didesain khusus untuk memberi kenyamanan dan keamanan pada pengendaranya. Tempat duduk anak dilengkapi bantalan jok yang empuk, sandaran punggung, pijakan kaki dan seat belt. Terbayang kan kenyamanannya? Sehingga sering kali saya melihat anak-anak yang tidur dengan lelap saat bersepeda bersama ibunya.
Tidak itu saja, di sebagian besar negara maju, jalur bersepeda memang disediakan khusus dan nyaman. Dan bila hendak menyebrang, kendaraan lain akan mengutamakan pejalan kaki dan pengendara sepeda lebih dulu. Pengalaman saya waktu di Tsukuba, akses ke tempat umum seperti sekolah / kampus, perpustakaan, taman kota dan pusat belanja memang lebih mudah dan praktis bila memakai sepeda. Misalkan untuk ke perpustakaan kota, sepeda bisa langsung parkir di samping perpustakaan. Berbeda dengan mobil pribadi yang harus parkir di tempat khusus, lalu dari situ harus berjalan kaki selama kurang lebih sepuluh menit menuju perpustakaan. Kalau di pusat belanja / supermarket berbeda sedikit. Parkir sepeda biasanya disediakan di samping bangunan supermarket atau di sekitar pintu masuk, gratis. Parkir mobil biasanya di basement dan harus bayar, dengan tarif perjam yang lumayan mahal. Seingat saya, dulu tarif parkir di Seibu Tsukuba 650 yen / jam atau setara dengan 65.000 rupiah / jam.
Jadi, pilih bersepeda atau naik mobil?
Kalau di Indonesia, sepertinya masih sangat sulit untuk kemana-mana mengendarai sepeda. Selain tidak ada jalur khusus (baru beberapa kampus yang memiliki jalur khusus sepeda), pengguna kendaraan yang lain kurang menghargai pengendara sepeda. Kalau di jalan ada yang bersepeda, pasti kendaraan bermotor lainnya berlomba membunyikan klakson agar minggir.
Miris tapi itulah kenyataannya.
Pemandangan seperti itu sangat jarang saya lihat di sini. Sewaktu di Jepang, hal itu justru biasa. Para ibu rumah tangga biasanya mengendarai sepeda untuk pergi dalam jarak yang tidak jauh, seperti berbelanja ataupun keperluan lainnya. Dan sering kali (selalu) membawa serta anaknya, bila sang anak belum sekolah atau tidak dititipkan di tempat penitipan anak.
Sepeda untuk membawa anak, biasanya didesain khusus untuk memberi kenyamanan dan keamanan pada pengendaranya. Tempat duduk anak dilengkapi bantalan jok yang empuk, sandaran punggung, pijakan kaki dan seat belt. Terbayang kan kenyamanannya? Sehingga sering kali saya melihat anak-anak yang tidur dengan lelap saat bersepeda bersama ibunya.
Tidak itu saja, di sebagian besar negara maju, jalur bersepeda memang disediakan khusus dan nyaman. Dan bila hendak menyebrang, kendaraan lain akan mengutamakan pejalan kaki dan pengendara sepeda lebih dulu. Pengalaman saya waktu di Tsukuba, akses ke tempat umum seperti sekolah / kampus, perpustakaan, taman kota dan pusat belanja memang lebih mudah dan praktis bila memakai sepeda. Misalkan untuk ke perpustakaan kota, sepeda bisa langsung parkir di samping perpustakaan. Berbeda dengan mobil pribadi yang harus parkir di tempat khusus, lalu dari situ harus berjalan kaki selama kurang lebih sepuluh menit menuju perpustakaan. Kalau di pusat belanja / supermarket berbeda sedikit. Parkir sepeda biasanya disediakan di samping bangunan supermarket atau di sekitar pintu masuk, gratis. Parkir mobil biasanya di basement dan harus bayar, dengan tarif perjam yang lumayan mahal. Seingat saya, dulu tarif parkir di Seibu Tsukuba 650 yen / jam atau setara dengan 65.000 rupiah / jam.
Jadi, pilih bersepeda atau naik mobil?
Kalau di Indonesia, sepertinya masih sangat sulit untuk kemana-mana mengendarai sepeda. Selain tidak ada jalur khusus (baru beberapa kampus yang memiliki jalur khusus sepeda), pengguna kendaraan yang lain kurang menghargai pengendara sepeda. Kalau di jalan ada yang bersepeda, pasti kendaraan bermotor lainnya berlomba membunyikan klakson agar minggir.
Miris tapi itulah kenyataannya.
Tuesday, April 30, 2013
Penyita Waktu
Lama vakum, baru sekarang sempat update blog ini lagi. Rasanya ada sembilan bulan blog ini tanpa update. Kalo diumpamakan wanita hamil, sembilan bulan itu sudah masanya melahirkan. Hehehe...just preface joke.
Mungkin sebagian ada yang bertanya-tanya, kenapa sih jarang banget update cerita belakangan ini? Kalo saya jawab sibuk, kurang tepat. Soalnya kalo dipaksakan, sebenarnya masih bisa disempatkan buat nulis kok. Apa karena ga ada ide buat tulisan? Waa...ga benar juga. Dengan ngobrol, berinteraksi dan membaca lingkungan sekitar, sebenarnya ada banyak cerita yang ingin saya bagi di blog ini.
Trus apa dong alasannya?
Karena belakangan ini, waktu luang saya cukup tersita dengan obrolan di group smartphone. Ada beberapa group yang saya ikuti. Group keluarga, tetangga, teman masa SMU, teman masa kuliah, teman seperjuangan waktu merantau di Jepang sampai group online shop. Banyak group seperti itu, terbayang kan bagaimana keramaian di smartphone saya?!
Walaupun bukan pengobrol aktif di setiap group, tapi bila muncul notifikasi di layar smartphone, saya jadi penasaran bila tidak membacanya. Terkadang saya hanya ikut menikmati obrolan sebagai partisipan pasif. Hanya berkomentar, 'o begitu ya..' Atau sekedar menyapa, mengucapkan salam ditambah menyebutkan aktivitas yang sedang dilakukan seperti, 'pagi temans, sarapan dulu yuuk...'
Tapi saat topik obrolannya menarik, saya semakin ingin tahu dan tak jarang berbagi info serta cerita juga. Saat seperti inilah yang bisa menyita waktu sehingga tidak sempat update blog.
Berbagi info ataupun cerita melalui group smartphone tentu saja berbeda dengan blog. Group smartphone itu sifatnya segmented dan sering kali ada keterikatan emosional di antara anggotanya. Sehingga tak jarang, obrolannya jadi ajang curhat. Bercerita lewat blog, sifatnya lebih umum dan terbuka (bila setting-nya bisa diakses semua orang), juga tidak selalu ada ikatan emosional antara penulis dan pembaca.
Jadi sekarang pilihannya, kita mau menulis, ngobrol ataupun bercerita itu ditujukan untuk siapa? Yang jelas, berbagi info dan ilmu itu penting, agar orang lain menjadi tahu dan mudah-mudahan bermanfat. Karena banyak memberi manfaat bagi orang lain adalah sifat yang mulia. Seperti semboyan yang sering ditulis orang, ' Hidup Mulia or Die as Syuhada'.
Mungkin sebagian ada yang bertanya-tanya, kenapa sih jarang banget update cerita belakangan ini? Kalo saya jawab sibuk, kurang tepat. Soalnya kalo dipaksakan, sebenarnya masih bisa disempatkan buat nulis kok. Apa karena ga ada ide buat tulisan? Waa...ga benar juga. Dengan ngobrol, berinteraksi dan membaca lingkungan sekitar, sebenarnya ada banyak cerita yang ingin saya bagi di blog ini.
Trus apa dong alasannya?
Karena belakangan ini, waktu luang saya cukup tersita dengan obrolan di group smartphone. Ada beberapa group yang saya ikuti. Group keluarga, tetangga, teman masa SMU, teman masa kuliah, teman seperjuangan waktu merantau di Jepang sampai group online shop. Banyak group seperti itu, terbayang kan bagaimana keramaian di smartphone saya?!
Walaupun bukan pengobrol aktif di setiap group, tapi bila muncul notifikasi di layar smartphone, saya jadi penasaran bila tidak membacanya. Terkadang saya hanya ikut menikmati obrolan sebagai partisipan pasif. Hanya berkomentar, 'o begitu ya..' Atau sekedar menyapa, mengucapkan salam ditambah menyebutkan aktivitas yang sedang dilakukan seperti, 'pagi temans, sarapan dulu yuuk...'
Tapi saat topik obrolannya menarik, saya semakin ingin tahu dan tak jarang berbagi info serta cerita juga. Saat seperti inilah yang bisa menyita waktu sehingga tidak sempat update blog.
Berbagi info ataupun cerita melalui group smartphone tentu saja berbeda dengan blog. Group smartphone itu sifatnya segmented dan sering kali ada keterikatan emosional di antara anggotanya. Sehingga tak jarang, obrolannya jadi ajang curhat. Bercerita lewat blog, sifatnya lebih umum dan terbuka (bila setting-nya bisa diakses semua orang), juga tidak selalu ada ikatan emosional antara penulis dan pembaca.
Jadi sekarang pilihannya, kita mau menulis, ngobrol ataupun bercerita itu ditujukan untuk siapa? Yang jelas, berbagi info dan ilmu itu penting, agar orang lain menjadi tahu dan mudah-mudahan bermanfat. Karena banyak memberi manfaat bagi orang lain adalah sifat yang mulia. Seperti semboyan yang sering ditulis orang, ' Hidup Mulia or Die as Syuhada'.
Labels:
News respond,
reflection,
you should know
Monday, July 30, 2012
Urip iki nggolek opo tho?
Maaf ya, judulnya pake bahasa jawa. Judul itu artinya, 'hidup ini mencari apa sih?'.
Ini sebenarnya tulisan curhat berkaitan dengan kejadian beberapa hari yang lalu. Sudah curhat juga sih dengan orang terdekat, disarankan untuk jangan terlalu mikirin omongan orang, ikhlas dan sabar aja. Tapi kok rasanya masih pengen ditulis, biar lebih plong dan sebagai pelajaran buat masa yang akan datang.
Saya dan beberapa teman di lingkungan RT di komplek tempat tinggal saya, diamanahi sebagai panitia penyedia konsumsi takjil di masjid komplek. Dalam satu minggu (7 hari) ada dua RT yang bertugas menyediakan takjil kurang lebih 60 porsi. Untuk memudahkan, RT saya dan RT satunya berbagi hari. Alhamdulillah kami kebagian pada 3 hari pertama Ramadhan, lalu pada hari ketujuh kita kerjakan bersama.
Untuk takjil-nya, kami sepakat untuk pesan saja karena masing-masing punya kesibukan sehingga tidak sempat untuk membuat sendiri. Hari pertama berjalan lancar. Hari kedua, mulai ada kritik dari beberapa teman yang ikut berbuka di masjid karena ada kue yang rasanya tidak enak (hampir basi). Begitu pula pada hari ketiga. Sampai ada yang bisik-bisik sambil melirik saya, "daripada pesan makanan tapi rasanya ga jelas begini mending bikin sendiri aja." Memang, mereka cukup tahu bahwa saya (dibandingkan dengan tetangga yang lain) sering dan bisa membuat kue. Terutama untuk acara-acara yang bertempat di rumah saya, seringnya kue yang disediakan adalah bikinan sendiri.
Bisik-bisik itu akhirnya sampai ke ibu RT. Kebetulan saya lagi merencanakan tugas untuk hari ketujuh. Pada hari ketujuh, Rt kami menyediakan kuenya dan RT yang satu menyediakan minumnya. Pada saat itu ibu RT bilang, sekarang agak susah pesan kue basah soalnya kebanyakan pembuat/toko kue sedang konsentrasi pada pesanan kue kering. Jadinya tukang kue basah kebanyakan pesanan, nah ini kadang yang bikin kuenya hampir basi saat sampai ke pemesan. Karena kue basah memang tidak tahan lama.Akhirnya saya menyanggupi untuk membuat kue/takjil hari ketujuh itu. Teknis dan detilnya saya atur sendiri.
Niat saya hanyalah membantu, agar kue yang disediakan dalam kondisi fresh. Khusus event ini, saya tidak mencari keuntungan hanya minta diganti bahan-bahan dan pack aja. Karena saya bukan penerima order kue yang profesional, jadi stok bahan kue yang ada di rumah ga banyak.
Saat saya sedang sibuk-sibuknya menyiapkan kue tersebut, kebetulan ada tetangga yang mampir. Mampirnya sih sebentar tapi omongannya membekas cukup lama di hati saya. Omongannya kira-kira begini, "wah lagi sibuk ngerjain borongan kue ya?! Kuenya dihargai berapaan? Pintar nih nyari kesempatannya. Coba dari hari pertama ambil borongannya, kan lumayan tuh untungnya."
Astaghfirullah hal adzim. Saya tidak menyangka akan dapat omongan seperti itu. Entah kenapa, saya agak sensitif mendengarnya. Ternyata masih ada orang di sekitar saya yang berorientasi pada materi terhadap apa-apa yang dikerjakannya.
Sebenarnya apa sih yang kita cari dalam hidup? Materi? Ya, bisa jadi salah satunya. Tapi menurut saya, itu hanya seper-berapa saja. Banyak hal lain yang tak kalah penting dan perlu dicari. Seperti kebahagian bisa berbagi ataupun bershodaqoh dengan tenaga dan kemampuan yang kita miliki.
Kata suami saya, orang lain ga perlu tahu apa niat kita. Yang penting kamu dah mengerjakannya dengan senang hati. Allah maha tahu apa yang ada di dalam hati setiap kita.
Ini sebenarnya tulisan curhat berkaitan dengan kejadian beberapa hari yang lalu. Sudah curhat juga sih dengan orang terdekat, disarankan untuk jangan terlalu mikirin omongan orang, ikhlas dan sabar aja. Tapi kok rasanya masih pengen ditulis, biar lebih plong dan sebagai pelajaran buat masa yang akan datang.
Saya dan beberapa teman di lingkungan RT di komplek tempat tinggal saya, diamanahi sebagai panitia penyedia konsumsi takjil di masjid komplek. Dalam satu minggu (7 hari) ada dua RT yang bertugas menyediakan takjil kurang lebih 60 porsi. Untuk memudahkan, RT saya dan RT satunya berbagi hari. Alhamdulillah kami kebagian pada 3 hari pertama Ramadhan, lalu pada hari ketujuh kita kerjakan bersama.
Untuk takjil-nya, kami sepakat untuk pesan saja karena masing-masing punya kesibukan sehingga tidak sempat untuk membuat sendiri. Hari pertama berjalan lancar. Hari kedua, mulai ada kritik dari beberapa teman yang ikut berbuka di masjid karena ada kue yang rasanya tidak enak (hampir basi). Begitu pula pada hari ketiga. Sampai ada yang bisik-bisik sambil melirik saya, "daripada pesan makanan tapi rasanya ga jelas begini mending bikin sendiri aja." Memang, mereka cukup tahu bahwa saya (dibandingkan dengan tetangga yang lain) sering dan bisa membuat kue. Terutama untuk acara-acara yang bertempat di rumah saya, seringnya kue yang disediakan adalah bikinan sendiri.
Bisik-bisik itu akhirnya sampai ke ibu RT. Kebetulan saya lagi merencanakan tugas untuk hari ketujuh. Pada hari ketujuh, Rt kami menyediakan kuenya dan RT yang satu menyediakan minumnya. Pada saat itu ibu RT bilang, sekarang agak susah pesan kue basah soalnya kebanyakan pembuat/toko kue sedang konsentrasi pada pesanan kue kering. Jadinya tukang kue basah kebanyakan pesanan, nah ini kadang yang bikin kuenya hampir basi saat sampai ke pemesan. Karena kue basah memang tidak tahan lama.Akhirnya saya menyanggupi untuk membuat kue/takjil hari ketujuh itu. Teknis dan detilnya saya atur sendiri.
Niat saya hanyalah membantu, agar kue yang disediakan dalam kondisi fresh. Khusus event ini, saya tidak mencari keuntungan hanya minta diganti bahan-bahan dan pack aja. Karena saya bukan penerima order kue yang profesional, jadi stok bahan kue yang ada di rumah ga banyak.
Saat saya sedang sibuk-sibuknya menyiapkan kue tersebut, kebetulan ada tetangga yang mampir. Mampirnya sih sebentar tapi omongannya membekas cukup lama di hati saya. Omongannya kira-kira begini, "wah lagi sibuk ngerjain borongan kue ya?! Kuenya dihargai berapaan? Pintar nih nyari kesempatannya. Coba dari hari pertama ambil borongannya, kan lumayan tuh untungnya."
Astaghfirullah hal adzim. Saya tidak menyangka akan dapat omongan seperti itu. Entah kenapa, saya agak sensitif mendengarnya. Ternyata masih ada orang di sekitar saya yang berorientasi pada materi terhadap apa-apa yang dikerjakannya.
Sebenarnya apa sih yang kita cari dalam hidup? Materi? Ya, bisa jadi salah satunya. Tapi menurut saya, itu hanya seper-berapa saja. Banyak hal lain yang tak kalah penting dan perlu dicari. Seperti kebahagian bisa berbagi ataupun bershodaqoh dengan tenaga dan kemampuan yang kita miliki.
Kata suami saya, orang lain ga perlu tahu apa niat kita. Yang penting kamu dah mengerjakannya dengan senang hati. Allah maha tahu apa yang ada di dalam hati setiap kita.
Sunday, May 20, 2012
Bukan Wanita Biasa
Sore, kira-kira pukul 16.30 WIB.
Setelah dering ketiga, aku mendengar sahutan di seberang telepon.
"Halo mbak, aku dan suami sedang di jalan tapi agak macet nih... Mbak masih di rumah sakit?"
"Iya masih, tapi sudah diijinkan pulang sore ini. Baru aja selesai ngurus administrasi."
"Oo... gitu. Jadi baiknya aku kemana nih? Apa aku langsung ke rumah aja?"
"Boleh ga ke rumah sakit dulu? Aku minta tolong antarin pulang, soalnya ga ada yang jemput dan masih bingung mau pulang naik apa?"
"Oh iya, iya. Aku ke rumah sakit dulu deh, tunggu ya."
Klik, call ended.
Kamar rawat inap.
"Assalamu'alaikum... Wah, udah diberesin nih barang-barangnya, ya?! Gimana kondisinya? Selamat ya mbak."
"Wa'alaikum salam. Iya, makasih. Tinggal nunggu obat dari dokter."
Kulihat box disamping tempat tidurnya.
"Wuaa...mirip siapa nih? Kayaknya mirip kakak sulungnya ya?! Dedeknya sehat kan?!"
Sang ibu yang duduk di atas tempat tidurnya tersenyum memandang bayinya.
"Alhamdulillah sehat tapi setelah diperiksa dokter pagi tadi, bayinya ada alergi. Oh iya, kenalin ini teteh, tetangga di depan rumah."
Seorang wanita yang sejak tadi mebereskan barang-barang di kamar itu tersenyum padaku.
"Teteh ini yang kemarin nemanin ke rumah sakit dan nungguin selama persalinan."
"Makasih banyak bantuannya teh." Sambil ku sambut uluran tanggannya.
Bayi mungil itu masih terlelap di dalam box tanpa terganggu obrolan orang dewasa di sekitarnya. Tak lama kemudian, seorang perawat datang. Dia menyerahkan obat dan menjelaskan pemakaiannya. Serta tak lupa mengingatkan jadwal periksa ibu dan bayi selanjutnya. Setelah itu kami semua keluar menuju parkiran mobil, membawa bayi mungil itu pulang untuk bertemu kakak-kakaknya.
"Anak-anak siapa yang nemanin di rumah mbak?"
"Sama tantenya."
Tiga bocah lelaki menghambur ke pelukan ibunya ketika kami sampai di rumah. Bocah-bocah itu saling berebut ingin mencium adik bayinya yang baru lahir. Ternyata, bocah-bocah itu tidak diijinkan membesuk ke rumah sakit karena dua orang di antaranya sedang kurang sehat. Aku hanya bisa memandangi mereka. Bocah-bocah itu berceloteh dengan riang pada sang ibu kejadian di rumah selama ibunya di rumah sakit.
Aku melihat, bibir sang ibu tersenyum mendengar cerita putra-putranya tapi sorot matanya tidak bisa berbohong. Mata itu letih dan sedih. Sesekali dia mengelus kepala bayi dalam dekapannya. Bayi itu putra keempatnya yang tidak sempat dilihat ayahnya. Yah, suaminya telah dipanggil yang maha kuasa saat sedang bertugas, meninggalkan dia bersama tiga orang anak lelaki dan janin berusia empat bulan di dalam kandungan. Dan almarhum suaminya adalah teman baik suamiku saat sama-sama kuliah di Bandung.
Tanpa disadari, mataku mulai berkaca-kaca. Aku memanjatkan do'a di dalam hati, semoga Allah senantiasa memberikan wanita ini kekuatan dan kesabaran untuk menjaga, membesarkan dan mendidik keempat anak yatim itu. Dia pasti bukan wanita biasa. Allah maha tahu akan kemampuannya.
Setelah dering ketiga, aku mendengar sahutan di seberang telepon.
"Halo mbak, aku dan suami sedang di jalan tapi agak macet nih... Mbak masih di rumah sakit?"
"Iya masih, tapi sudah diijinkan pulang sore ini. Baru aja selesai ngurus administrasi."
"Oo... gitu. Jadi baiknya aku kemana nih? Apa aku langsung ke rumah aja?"
"Boleh ga ke rumah sakit dulu? Aku minta tolong antarin pulang, soalnya ga ada yang jemput dan masih bingung mau pulang naik apa?"
"Oh iya, iya. Aku ke rumah sakit dulu deh, tunggu ya."
Klik, call ended.
Kamar rawat inap.
"Assalamu'alaikum... Wah, udah diberesin nih barang-barangnya, ya?! Gimana kondisinya? Selamat ya mbak."
"Wa'alaikum salam. Iya, makasih. Tinggal nunggu obat dari dokter."
Kulihat box disamping tempat tidurnya.
"Wuaa...mirip siapa nih? Kayaknya mirip kakak sulungnya ya?! Dedeknya sehat kan?!"
Sang ibu yang duduk di atas tempat tidurnya tersenyum memandang bayinya.
"Alhamdulillah sehat tapi setelah diperiksa dokter pagi tadi, bayinya ada alergi. Oh iya, kenalin ini teteh, tetangga di depan rumah."
Seorang wanita yang sejak tadi mebereskan barang-barang di kamar itu tersenyum padaku.
"Teteh ini yang kemarin nemanin ke rumah sakit dan nungguin selama persalinan."
"Makasih banyak bantuannya teh." Sambil ku sambut uluran tanggannya.
Bayi mungil itu masih terlelap di dalam box tanpa terganggu obrolan orang dewasa di sekitarnya. Tak lama kemudian, seorang perawat datang. Dia menyerahkan obat dan menjelaskan pemakaiannya. Serta tak lupa mengingatkan jadwal periksa ibu dan bayi selanjutnya. Setelah itu kami semua keluar menuju parkiran mobil, membawa bayi mungil itu pulang untuk bertemu kakak-kakaknya.
"Anak-anak siapa yang nemanin di rumah mbak?"
"Sama tantenya."
Tiga bocah lelaki menghambur ke pelukan ibunya ketika kami sampai di rumah. Bocah-bocah itu saling berebut ingin mencium adik bayinya yang baru lahir. Ternyata, bocah-bocah itu tidak diijinkan membesuk ke rumah sakit karena dua orang di antaranya sedang kurang sehat. Aku hanya bisa memandangi mereka. Bocah-bocah itu berceloteh dengan riang pada sang ibu kejadian di rumah selama ibunya di rumah sakit.
Aku melihat, bibir sang ibu tersenyum mendengar cerita putra-putranya tapi sorot matanya tidak bisa berbohong. Mata itu letih dan sedih. Sesekali dia mengelus kepala bayi dalam dekapannya. Bayi itu putra keempatnya yang tidak sempat dilihat ayahnya. Yah, suaminya telah dipanggil yang maha kuasa saat sedang bertugas, meninggalkan dia bersama tiga orang anak lelaki dan janin berusia empat bulan di dalam kandungan. Dan almarhum suaminya adalah teman baik suamiku saat sama-sama kuliah di Bandung.
Tanpa disadari, mataku mulai berkaca-kaca. Aku memanjatkan do'a di dalam hati, semoga Allah senantiasa memberikan wanita ini kekuatan dan kesabaran untuk menjaga, membesarkan dan mendidik keempat anak yatim itu. Dia pasti bukan wanita biasa. Allah maha tahu akan kemampuannya.
Friday, January 06, 2012
Matematika Pergantian Tahun
Akhirnya tahun 2011 berlalu, welcome 2012!
Pergantian tahun ada hubungannya dengan matematika. Tidak perlu mikir rumus matematika yang sulit-sulit, cukup yang sederhana saja yaitu tambah (+), kurang(-), kali(x) dan bagi(:).
Pergantian tahun tentu saja menambah nominal tahun tersebut. Misalkan tahun 2010 bertambah jadi 2011, 2012 dan seterusnya. Dan ini berhungan dengan pertambahan umur kita.
Tetapi disamping bertambah, ada juga yang berkurang. Apa sih yang berkurang? Tentu saja umur bumi dan juga masa tinggal kita di dunia semakin berkurang. Dengan kata lain, jarak menuju akhir kehidupan sudah semakin mendekat. Ibarat perlombaan, kita semakin dekat dengan garis finish
Setelah tambah dan kurang, sekarang kali. Semakin dekatnya jarak kita menuju akhir, bukan berarti tidak bisa berbuat banyak. Yang bisa dilakukan adalah mengoptimalkan potensi dan waktu yang ada dengan sebaik mungkin sehingga menghasilkan pahala berkali-kali lipat untuk bekal setelah finish.
Selain itu banyaklah berbagi kepada sesama. Baik itu berbagi harta, ilmu atau apapun yang memberi manfaat untuk saudara dan orang lain serta lingkungan di sekitar kita. Banyak berbagi kita akan menjadi manusia yang lebih baik karena sebaik-baik manusia adalah yang memberi banyak manfaat untuk orang lain.
Semoga bermanfaat.
Inspired by : sesion muhasabah pada liburan keluarga @ Cibodas.
Pergantian tahun ada hubungannya dengan matematika. Tidak perlu mikir rumus matematika yang sulit-sulit, cukup yang sederhana saja yaitu tambah (+), kurang(-), kali(x) dan bagi(:).
Pergantian tahun tentu saja menambah nominal tahun tersebut. Misalkan tahun 2010 bertambah jadi 2011, 2012 dan seterusnya. Dan ini berhungan dengan pertambahan umur kita.
Tetapi disamping bertambah, ada juga yang berkurang. Apa sih yang berkurang? Tentu saja umur bumi dan juga masa tinggal kita di dunia semakin berkurang. Dengan kata lain, jarak menuju akhir kehidupan sudah semakin mendekat. Ibarat perlombaan, kita semakin dekat dengan garis finish
Setelah tambah dan kurang, sekarang kali. Semakin dekatnya jarak kita menuju akhir, bukan berarti tidak bisa berbuat banyak. Yang bisa dilakukan adalah mengoptimalkan potensi dan waktu yang ada dengan sebaik mungkin sehingga menghasilkan pahala berkali-kali lipat untuk bekal setelah finish.
Selain itu banyaklah berbagi kepada sesama. Baik itu berbagi harta, ilmu atau apapun yang memberi manfaat untuk saudara dan orang lain serta lingkungan di sekitar kita. Banyak berbagi kita akan menjadi manusia yang lebih baik karena sebaik-baik manusia adalah yang memberi banyak manfaat untuk orang lain.
Semoga bermanfaat.
Inspired by : sesion muhasabah pada liburan keluarga @ Cibodas.
Sunday, September 18, 2011
P a s s p o r t
Dapat tulisan bagus dari milis tetangga, banyak nilai berharga yang penting buat diketahui dan diamalkan. Enjoy it!
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.
Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki "surat ijin memasuki dunia global". Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.
Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.
Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?;
Saya katakan saya tidak tahu. Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.
Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.
Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.
Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.
The Next Convergence
Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.
Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.
Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.
Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.
Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.
Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.
Rhenald Kasali - Guru Besar Universitas Indonesia
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.
Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki "surat ijin memasuki dunia global". Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.
Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.
Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?;
Saya katakan saya tidak tahu. Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.
Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.
Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.
Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.
The Next Convergence
Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.
Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.
Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.
Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.
Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.
Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.
Rhenald Kasali - Guru Besar Universitas Indonesia
Thursday, July 21, 2011
Saling Melengkapi
Masih tentang hobi nih. Tidak jarang, sepasang ataupun beberapa orang bersatu karena memiliki kesamaan hobi. Mereka membentuk grup / perkumpulan berdasarkan kesamaan tersebut. Bahkan ada yang menikah karena kesamaan hobi sebagai salah satu alasan memilih pasangan.
Saya dan suami, agak sedikit berbeda. Hobi kami tidak sama namun saling melengkapi satu sama lain.
Salah satu hobi suami saya adalah bermain musik. Darah seni memang mengalir di dalam keluarganya melalui sang ayah yang seorang gitaris dan violist sebuah band di masa mudanya. Hanya saja pada masa itu, bermusik bukanlah pilihan yang direstui untuk jadi sandaran hidup. Itu juga yang di-doktrin-kan kepada suami saya dan saudara-saudaranya sehingga musik hanya jadi penghibur di kala sepi atau salah satu penenang di saat suntuk pada rutinitas sehari-hari.
Ketika suami sedang memainkan melodi sebuah lagu, seringkali suara saya menyuarakan liriknya. Dengan nada yang lebih sering tidak cocok dengan nada dasar melodi yang sedang dimainkannya. Telinga awam pasti bisa mendeteksi kalau suara penyanyi tidak sama dengan nada dasar musiknya. Jelas saja jadi terdengar aneh. Kalo meminjam istilah Tukul Arwana, listening skill-nya beda. Telinga saya tidak terlatih mendengarkan nada musik dengan tepat. Kalau sudah begitu, biasanya suami protes. "Dengerin intro-nya dong... Lagu ini, mainnya di nada apa? Trus cocokin suaranya!"
Biasanya saya hanya nyegir. Tapi kadang sempat nyeletuk juga, "makanya bikin lagu sendiri dong... Yang sesuai suaraku. Masak main musik tapi yang dimainin lagu orang melulu."
Lain suami, lain pula saya. Hobi yang sudah dijalani sejak kecil adalah membaca. Terutama bacaan fiksi yang berupa cerpen dan novel. Tapi jangan mengira koleksi novel saya banyak ya?! Karena saya senang membaca tapi tidak senang membeli. Ada banyak cara untuk mendapatkan bacaan tanpa harus membeli. Terkadang suami kelihatannya ingin tahu isi novel yang saya baca tapi langsung nyerah ketika melihat jumlah halamannya yang tebal. Dan sayalah yang diminta menceritakan isinya lengkap dengan pelajaran / hikmah yang bisa diambil. Tentu aja, sesuai interpretasi saya.
Untuk sebuah novel yang menurut saya bagus dan menarik, saya tahan lek-lekan (bergadang) untuk menamatkannya. Dan saya bisa membacanya berulang-ulang kali. Suami pernah bertanya ketika dilihatnya saya membaca novel yang sama berkali-kali.
"Apa ga bosan, baca novel yang sama berulang-ulang? Toh, ceritanya sama aja kan?!"
"Itulah tandanya novel yang bagus dan menarik. Dibaca berkali-kalipun, ga ngebosanin."
"Dimana sih menariknya?"
"Bisa ide ceritanya, karakter tokoh-tokohnya. Banyak hal deh yang bikin betah ngebacanya."
"Ah, bisanya cuma baca aja. Tulis novel sendiri dong, yang enak dibaca orang berkali-kali"
Saya tinggal nyengir aja.
Trus hobi saya yang lain adalah mencoba dan memodifikasi resep kue atau masakan. Yang banyak saya coba, resep kue. Baik itu resep dari majalah, tabloid atau hasil browsing. Biasanya saya mimilih resep kue yang kira-kira bisa dimakan oleh suami karena saya sendiri tidak suka ngemil. Hasilnya bisa sukses dan tak jarang gagal juga. Namun bagaimanapun hasilnya (asalkan ga hancur-hancur banget), tetap ludes dimakan suami. Itulah hikmahnya saling melengkapi hobi :D
Saya dan suami, agak sedikit berbeda. Hobi kami tidak sama namun saling melengkapi satu sama lain.
Salah satu hobi suami saya adalah bermain musik. Darah seni memang mengalir di dalam keluarganya melalui sang ayah yang seorang gitaris dan violist sebuah band di masa mudanya. Hanya saja pada masa itu, bermusik bukanlah pilihan yang direstui untuk jadi sandaran hidup. Itu juga yang di-doktrin-kan kepada suami saya dan saudara-saudaranya sehingga musik hanya jadi penghibur di kala sepi atau salah satu penenang di saat suntuk pada rutinitas sehari-hari.
Ketika suami sedang memainkan melodi sebuah lagu, seringkali suara saya menyuarakan liriknya. Dengan nada yang lebih sering tidak cocok dengan nada dasar melodi yang sedang dimainkannya. Telinga awam pasti bisa mendeteksi kalau suara penyanyi tidak sama dengan nada dasar musiknya. Jelas saja jadi terdengar aneh. Kalo meminjam istilah Tukul Arwana, listening skill-nya beda. Telinga saya tidak terlatih mendengarkan nada musik dengan tepat. Kalau sudah begitu, biasanya suami protes. "Dengerin intro-nya dong... Lagu ini, mainnya di nada apa? Trus cocokin suaranya!"
Biasanya saya hanya nyegir. Tapi kadang sempat nyeletuk juga, "makanya bikin lagu sendiri dong... Yang sesuai suaraku. Masak main musik tapi yang dimainin lagu orang melulu."
Lain suami, lain pula saya. Hobi yang sudah dijalani sejak kecil adalah membaca. Terutama bacaan fiksi yang berupa cerpen dan novel. Tapi jangan mengira koleksi novel saya banyak ya?! Karena saya senang membaca tapi tidak senang membeli. Ada banyak cara untuk mendapatkan bacaan tanpa harus membeli. Terkadang suami kelihatannya ingin tahu isi novel yang saya baca tapi langsung nyerah ketika melihat jumlah halamannya yang tebal. Dan sayalah yang diminta menceritakan isinya lengkap dengan pelajaran / hikmah yang bisa diambil. Tentu aja, sesuai interpretasi saya.
Untuk sebuah novel yang menurut saya bagus dan menarik, saya tahan lek-lekan (bergadang) untuk menamatkannya. Dan saya bisa membacanya berulang-ulang kali. Suami pernah bertanya ketika dilihatnya saya membaca novel yang sama berkali-kali.
"Apa ga bosan, baca novel yang sama berulang-ulang? Toh, ceritanya sama aja kan?!"
"Itulah tandanya novel yang bagus dan menarik. Dibaca berkali-kalipun, ga ngebosanin."
"Dimana sih menariknya?"
"Bisa ide ceritanya, karakter tokoh-tokohnya. Banyak hal deh yang bikin betah ngebacanya."
"Ah, bisanya cuma baca aja. Tulis novel sendiri dong, yang enak dibaca orang berkali-kali"
Saya tinggal nyengir aja.
Trus hobi saya yang lain adalah mencoba dan memodifikasi resep kue atau masakan. Yang banyak saya coba, resep kue. Baik itu resep dari majalah, tabloid atau hasil browsing. Biasanya saya mimilih resep kue yang kira-kira bisa dimakan oleh suami karena saya sendiri tidak suka ngemil. Hasilnya bisa sukses dan tak jarang gagal juga. Namun bagaimanapun hasilnya (asalkan ga hancur-hancur banget), tetap ludes dimakan suami. Itulah hikmahnya saling melengkapi hobi :D
Tuesday, June 14, 2011
Mobil - mobil(an)
Kalau kita memperhatikan anak-anak (laki-laki) yang suka dengan mobil-mobilan, biasanya jumlah yang mereka memiliki bisa lebih dari satu. Bahkan keponakan laki-laki saya, mempunyai satu keranjang mainan mobil-mobilan dengan berbagai tipe mobil. Dari yang berukuran besar sampai yang kecil. Itu yang masih bisa dikumpulkan, belum termasuk yang hilang. Wajar saja bila dipajang akan memenuhi satu lemari etalase.
Bagaimana kalau bukan mobil-mobilan melainkan mobil beneran? Memang ada sebagian orang yang hobi mengoleksi aneka jenis mobil. Hobi yang terbilang mahal, menurut saya. Tapi kalau sudah berhubungan dengan hobi, kadang-kadang memang tidak bisa sejalan dengan logika.
Suatu waktu saya pernah membaca ulasan tentang kekayaan calon presiden (sebelum pemilu tahun 2004, kalau tidak salah). Salah satu calon capres memiliki dua belas mobil di garasi rumahnya, produksi dari berbagai perusahaan otomotif dan berbagai tipe. Garasi rumahnya melebihi pemandangan show room produsen mobil. Berita yang sedang hangat baru-baru ini, juga terkait dengan koleksi mobil mewah seorang tersangka kasus pembobolan dana nasabah sebuah bank terkenal. Mobil-mobil itu kemudian disita oleh pihak kepolisian, sehingga kantor polisi mendadak menjadi show room mobil mewah.
Seorang tetangga baru di depan rumah saya, agaknya juga mempunyai hobi mengoleksi mobil. Mereka baru tinggal kurang lebih satu bulan. Saya perhatikan mereka punya tiga mobil dengan tipe yang berbeda yaitu, jeep, sedan dan minibus. Garasi rumah yang mereka tempati hanya bisa untuk satu mobil. Trus dua mobil lainnya parkir dimana dong? Kadang di depan rumahnya, kadang di depan rumah orang lain atau dimana yang ada space kosong untuk parkir. Tak jarang, mobil yang parkir di luar garasi tersebut mengganggu kelancaran lalu lintas di komplek perumahan saya. Saya perhatikan, setiap hari hanya satu mobil yang selalu dipakai keluar, dua lainnya tetap parkir. Dan celakanya, bukan hanya satu tetangga yang seperti itu. Tetangga yang agak jauh (beda 5 rumah dari tempat saya), juga memiliki banyak mobil dan memakai salah satu sisi jalan untuk parkir. Ruwet deh!
Sekali lagi, hobi kadang-kadang memang tidak bisa sejalan dengan logika. Kalo menurut saya, kalau hobi mengoleksi mobil ada baiknya menyiapkan lahan atau tempat yang memadai untuk parkir. Entah itu memperluas garasi, mencari lahan kosong atau menyewa lahan parkir. Jangan sampai hobi kita menggangu orang lain. Lebih baik lagi bila memiliki mobil seperlunya saja, daripada punya banyak mobil tapi jarang dipakai, hanya untuk pajangan di jalan umum. Kalo ga, koleksi mobil-mobilan aja dulu :)
Bagaimana kalau bukan mobil-mobilan melainkan mobil beneran? Memang ada sebagian orang yang hobi mengoleksi aneka jenis mobil. Hobi yang terbilang mahal, menurut saya. Tapi kalau sudah berhubungan dengan hobi, kadang-kadang memang tidak bisa sejalan dengan logika.
Suatu waktu saya pernah membaca ulasan tentang kekayaan calon presiden (sebelum pemilu tahun 2004, kalau tidak salah). Salah satu calon capres memiliki dua belas mobil di garasi rumahnya, produksi dari berbagai perusahaan otomotif dan berbagai tipe. Garasi rumahnya melebihi pemandangan show room produsen mobil. Berita yang sedang hangat baru-baru ini, juga terkait dengan koleksi mobil mewah seorang tersangka kasus pembobolan dana nasabah sebuah bank terkenal. Mobil-mobil itu kemudian disita oleh pihak kepolisian, sehingga kantor polisi mendadak menjadi show room mobil mewah.
Seorang tetangga baru di depan rumah saya, agaknya juga mempunyai hobi mengoleksi mobil. Mereka baru tinggal kurang lebih satu bulan. Saya perhatikan mereka punya tiga mobil dengan tipe yang berbeda yaitu, jeep, sedan dan minibus. Garasi rumah yang mereka tempati hanya bisa untuk satu mobil. Trus dua mobil lainnya parkir dimana dong? Kadang di depan rumahnya, kadang di depan rumah orang lain atau dimana yang ada space kosong untuk parkir. Tak jarang, mobil yang parkir di luar garasi tersebut mengganggu kelancaran lalu lintas di komplek perumahan saya. Saya perhatikan, setiap hari hanya satu mobil yang selalu dipakai keluar, dua lainnya tetap parkir. Dan celakanya, bukan hanya satu tetangga yang seperti itu. Tetangga yang agak jauh (beda 5 rumah dari tempat saya), juga memiliki banyak mobil dan memakai salah satu sisi jalan untuk parkir. Ruwet deh!
Sekali lagi, hobi kadang-kadang memang tidak bisa sejalan dengan logika. Kalo menurut saya, kalau hobi mengoleksi mobil ada baiknya menyiapkan lahan atau tempat yang memadai untuk parkir. Entah itu memperluas garasi, mencari lahan kosong atau menyewa lahan parkir. Jangan sampai hobi kita menggangu orang lain. Lebih baik lagi bila memiliki mobil seperlunya saja, daripada punya banyak mobil tapi jarang dipakai, hanya untuk pajangan di jalan umum. Kalo ga, koleksi mobil-mobilan aja dulu :)
Tuesday, February 01, 2011
Setahun Kemarin
Tanpa terasa bulan Januari sudah berlalu. Janus (dewa dalam mitologi Romawi) yang wajahnya menghadap ke depan dan belakang pada saat bersamaan, perlahan sudah mulai menjauh. February is coming. Bulan cinta dan kasih sayang bagi sebagian orang.
Masih jelas dalam ingatan saya, Februari tahun lalu, bulan yang sangat sibuk menjelang kepulangan ke tanah air. Banyak urusan yang harus diselesaikan dengan baik sebelum meninggalkan bumi sakura. Mulai dari administrasi kependudukan, konfirmasi jadwal kedatangan dengan keluarga dan termasuk minta dicarikan tempat tinggal yang layak saat kami kembali ke Cibinong, hingga mengosongkan barang-barang dari kamar asrama tempat kami tinggal. Di antara semua urusan tersebut, mengosongkan kamar adalah kesibukan yang sangat menyita waktu dan tenaga.
Tak ada malam yang kami lewatkan tanpa menyortir dan mengepak, karena siang hari saya dan suami membereskan aktivitas di luar. Sebagian barang akan kami kirim ke Indonesia. Sebagian lagi akan ditinggalkan saja. Barang yang ditinggalkan, dipilah lagi karena ada beberapa teman yang membutuhkannya dan sebagian yang lain akan kami buang. Pada waktu itu, ingin rasanya menjadi magician yang bisa menyulap segala sesuatu sesuai keinginan dalam waktu singkat. Membereskan semuanya dalam satu malam. Tapi jelas itu satu hal yang mustahil mengingat kami juga perlu beristirahat. Apalagi saat itu masih musim dingin, kelelahan fisik yang berlarut-larut bisa menurunkan kesehatan tubuh. Seperti cerita Cinderella, akhirnya kami membatasi kerja ini hingga jam 12 malam. Begitu kedua jarum jam bersatu pada angka 12, aktivitas penyortiran dan pengepakan harus berhenti untuk selanjutnya berangkat tidur.
Sejak awal menginjakkan kaki di Jepang, kami menyadari bahwa negeri itu adalah tempat persinggahan sementara. Bagi kami, hidup yang lebih lama akan dijalani di tanah air. Bukannya tidak senang hidup di negeri maju dan sejahtera seperti di Jepang tetapi kami juga punya keinginan untuk membahagiakan orang-orang tercinta yang begitu berharap untuk bisa berkumpul bersama kami.
Sekarang kami mulai menata hidup sedikit demi sedikit. Memang tidak semudah hidup di Jepang karena di tanah air banyak perbedaan signifikan yang harus kami hadapi. Tantangan. Tapi melihat sinar-sinar penuh cinta dan bahagia dari mata yang sudah termakan usia, kami seakan mendapat tambahan energi kehidupan. Berbahagialah bagi mereka yang masih bisa berkumpul dengan orang-orang tercinta, sebelum yang tua pergi atau yang muda mendahului tanpa bisa kembali.
Masih jelas dalam ingatan saya, Februari tahun lalu, bulan yang sangat sibuk menjelang kepulangan ke tanah air. Banyak urusan yang harus diselesaikan dengan baik sebelum meninggalkan bumi sakura. Mulai dari administrasi kependudukan, konfirmasi jadwal kedatangan dengan keluarga dan termasuk minta dicarikan tempat tinggal yang layak saat kami kembali ke Cibinong, hingga mengosongkan barang-barang dari kamar asrama tempat kami tinggal. Di antara semua urusan tersebut, mengosongkan kamar adalah kesibukan yang sangat menyita waktu dan tenaga.
Tak ada malam yang kami lewatkan tanpa menyortir dan mengepak, karena siang hari saya dan suami membereskan aktivitas di luar. Sebagian barang akan kami kirim ke Indonesia. Sebagian lagi akan ditinggalkan saja. Barang yang ditinggalkan, dipilah lagi karena ada beberapa teman yang membutuhkannya dan sebagian yang lain akan kami buang. Pada waktu itu, ingin rasanya menjadi magician yang bisa menyulap segala sesuatu sesuai keinginan dalam waktu singkat. Membereskan semuanya dalam satu malam. Tapi jelas itu satu hal yang mustahil mengingat kami juga perlu beristirahat. Apalagi saat itu masih musim dingin, kelelahan fisik yang berlarut-larut bisa menurunkan kesehatan tubuh. Seperti cerita Cinderella, akhirnya kami membatasi kerja ini hingga jam 12 malam. Begitu kedua jarum jam bersatu pada angka 12, aktivitas penyortiran dan pengepakan harus berhenti untuk selanjutnya berangkat tidur.
Sejak awal menginjakkan kaki di Jepang, kami menyadari bahwa negeri itu adalah tempat persinggahan sementara. Bagi kami, hidup yang lebih lama akan dijalani di tanah air. Bukannya tidak senang hidup di negeri maju dan sejahtera seperti di Jepang tetapi kami juga punya keinginan untuk membahagiakan orang-orang tercinta yang begitu berharap untuk bisa berkumpul bersama kami.
Sekarang kami mulai menata hidup sedikit demi sedikit. Memang tidak semudah hidup di Jepang karena di tanah air banyak perbedaan signifikan yang harus kami hadapi. Tantangan. Tapi melihat sinar-sinar penuh cinta dan bahagia dari mata yang sudah termakan usia, kami seakan mendapat tambahan energi kehidupan. Berbahagialah bagi mereka yang masih bisa berkumpul dengan orang-orang tercinta, sebelum yang tua pergi atau yang muda mendahului tanpa bisa kembali.
Friday, December 31, 2010
Akhir Tahun
Beberapa jam lagi, tahun 2010 akan segera berakhir. Berbagai peristiwa terjadi setahun ini. Ada yang senang membahagiakan, lucu penuh canda, ada pula kegagalan serta sedih yang memaksa air mata jatuh. Masa yang telah lewat tak akan kembali. Kegagalan dan kekecewaan ga perlu disesali. Begitulah hidup, penuh dinamika yang kadang tak terduga.
Bagi sebagian orang, pergantian tahun adalah moment yang penting untuk dirayakan. Lihat saja, berbagai penawaran selebrasi di restoran, hotel serta beberapa tempat umum. Mereka berlomba memberi penawaran semenarik mungkin. Sebagian besar perayaan itu berupa pesta sejak sore hingga lewat tengah malam. Melihat fenomena tersebut membuat saya berpikir, sebenarnya untuk apa itu semua?
Saya dan suami termasuk orang yang tidak terlalu menganggap penting perayaan pergantian tahun. Bagi kami, tak perlu acara spesial saat pergantian tahun, dilewati biasa saja seperti malam-malam yang lain. Hanya saja dalam obrolan ringan menjelang akhir tahun, sering tercetus target dan harapan yang ingin kami raih di waktu mendatang. Saya kira hal itu wajar, setiap orang ingin lebih baik, lebih maju kan?!
Kilas balik pada saat kami masih menghirup udara negeri sakura, pergantian tahun juga kami lewati di rumah. Bagi orang jepang, tahun baru adalah hari sepesial, waktunya berkumpul dengan keluarga besar layaknya hari raya. Perkantoran dan sekolah libur. Banyak toko/supermarket yang tutup. Selain itu transportasi umum sedikit yang beroperasi. Akhir tahun biasanya saya belanja makanan lebih banyak daripada biasanya. Memastikan stok logistic cukup karena pergantian tahun bersamaan dengan musim dingin yang bawaannya cepat lapar.
Tak jauh beda dengan di tanah air, beberapa hari ini saya juga mempersiapkan stok logistik lebih. Bukan karena khawatir banyak toko/pedagang yang tutup tapi lebih dikarenakan arus lalu lintas yang 'ga nyaman'. Saat pergantian tahun, kemacetan panjang bisa terjadi dimana-mana. Butuh waktu lama hanya untuk menuju jarak yang sebenarnya pendek. Makanya kalau tidak emergency, sebaiknya ga keluar rumah.
WELCOME 2011
Bagi sebagian orang, pergantian tahun adalah moment yang penting untuk dirayakan. Lihat saja, berbagai penawaran selebrasi di restoran, hotel serta beberapa tempat umum. Mereka berlomba memberi penawaran semenarik mungkin. Sebagian besar perayaan itu berupa pesta sejak sore hingga lewat tengah malam. Melihat fenomena tersebut membuat saya berpikir, sebenarnya untuk apa itu semua?
Saya dan suami termasuk orang yang tidak terlalu menganggap penting perayaan pergantian tahun. Bagi kami, tak perlu acara spesial saat pergantian tahun, dilewati biasa saja seperti malam-malam yang lain. Hanya saja dalam obrolan ringan menjelang akhir tahun, sering tercetus target dan harapan yang ingin kami raih di waktu mendatang. Saya kira hal itu wajar, setiap orang ingin lebih baik, lebih maju kan?!
Kilas balik pada saat kami masih menghirup udara negeri sakura, pergantian tahun juga kami lewati di rumah. Bagi orang jepang, tahun baru adalah hari sepesial, waktunya berkumpul dengan keluarga besar layaknya hari raya. Perkantoran dan sekolah libur. Banyak toko/supermarket yang tutup. Selain itu transportasi umum sedikit yang beroperasi. Akhir tahun biasanya saya belanja makanan lebih banyak daripada biasanya. Memastikan stok logistic cukup karena pergantian tahun bersamaan dengan musim dingin yang bawaannya cepat lapar.
Tak jauh beda dengan di tanah air, beberapa hari ini saya juga mempersiapkan stok logistik lebih. Bukan karena khawatir banyak toko/pedagang yang tutup tapi lebih dikarenakan arus lalu lintas yang 'ga nyaman'. Saat pergantian tahun, kemacetan panjang bisa terjadi dimana-mana. Butuh waktu lama hanya untuk menuju jarak yang sebenarnya pendek. Makanya kalau tidak emergency, sebaiknya ga keluar rumah.
WELCOME 2011
Tuesday, August 24, 2010
Berpuasa di negeri sendiri
Kalo di Jepang, saat Ramadhan ataupun bukan, terasa tidak ada bedanya bagi saya. Ritme kerja tidak berbeda. Counter makanan ataupun restoran sama sibuknya saat siang ataupun malam hari. Orang-orang yang menikmati santap siang di tempat umum juga ga ada sepinya. Smoking corner juga tetap disinggahi para perokok. Tidak terdengar teriakan imsak ketika terbit fajar. Tidak ada juga ucapan selamat berbuka dari media televisi setempat. Yah, karena yang merasakan Ramadhan hanya umat muslim yang sedang singgah ataupun memang menetap di sana.Golongan minoritas yang mencoba tetap eksis di tengah masyarakat sekuler.
Sekarang saya merasakan lagi indahnya Ramadhan di tanah air. Jam biologis saya seakan diatur kembali. Satu jam sebelum imsak, tubuh seakan ada yang membangunkan dari tidur. Berniat di dalam hati untuk berpuasa, seakan ada kekuatan yang menopang diri saya menahan haus dan lapar. Sehabis subuh, beraktivitas seperti biasa hingga masuk waktu ashar. Setelah itu saatnya rehat sambil mempersiapkan berbuka. Lalu menunggu adzan maghrib sambil mendengarkan tausiyah.
Aktivitas siang hingga maghrib itu yang rasa berbeda sewaktu tinggal di Jepang. Tak jarang, waktu berbuka saya masih berada di perjalanan.
Namun, Ramadhan di tanah air tidaklah sesempurna harapan saya. Di tempat umum tetap saja ada yang tidak menghormati orang yang berpuasa. Para perokok tanpa rasa malu tetap mengepulkan asapnya. Warung-warung yang menjual makanan tetap ramai didatangi pengunjung di siang hari walaupun ditutupi kain.Sekilas, seperti tak ada bedanya dengan pemandangan di Jepang.
Mungkinkah saya yang berharap terlalu banyak? Ataukah kesadaran yang tidak kunjung tumbuh untuk menghormati orang yang berpuasa?
Sekarang saya merasakan lagi indahnya Ramadhan di tanah air. Jam biologis saya seakan diatur kembali. Satu jam sebelum imsak, tubuh seakan ada yang membangunkan dari tidur. Berniat di dalam hati untuk berpuasa, seakan ada kekuatan yang menopang diri saya menahan haus dan lapar. Sehabis subuh, beraktivitas seperti biasa hingga masuk waktu ashar. Setelah itu saatnya rehat sambil mempersiapkan berbuka. Lalu menunggu adzan maghrib sambil mendengarkan tausiyah.
Aktivitas siang hingga maghrib itu yang rasa berbeda sewaktu tinggal di Jepang. Tak jarang, waktu berbuka saya masih berada di perjalanan.
Namun, Ramadhan di tanah air tidaklah sesempurna harapan saya. Di tempat umum tetap saja ada yang tidak menghormati orang yang berpuasa. Para perokok tanpa rasa malu tetap mengepulkan asapnya. Warung-warung yang menjual makanan tetap ramai didatangi pengunjung di siang hari walaupun ditutupi kain.Sekilas, seperti tak ada bedanya dengan pemandangan di Jepang.
Mungkinkah saya yang berharap terlalu banyak? Ataukah kesadaran yang tidak kunjung tumbuh untuk menghormati orang yang berpuasa?
Monday, July 05, 2010
Curhat di antrian
Waduuuh... Antriannya panjang banget! Begitu deh kalau kesiangan datang ke bagian teller bank. Sebenarnya ga terlalu siang sih, baru juga jam 10 pagi tapi mungkin kebanyakan orang juga sempatnya datang pada jam tersebut jadi banyak sekali yang mengantri.
Iseng-iseng saya melirik orang yang berada di depan saya. Seorang wanita bersama anak lelaki. Taksiran saya mungkin umurnya antara 35-40 tahun dan. Dilihat dari dandanannya, wanita itu cukup modis. Blus lengan pendek warna merah marun dipadukan dengan celana jins ketat membungkus tubuhnya yang ramping. Rambutnya diberi highlite merah marun juga. Sapuan make up di wajahnya, membuat mukanya terlihat lebih terang dibanding warna leher dan tangannya.Tak lupa tas tangan berwarna coklat, bercorak tiruan inisial salah satu merek terkenal, melengkapi penampilannya.
Ups... ada lembaran formulir yang masih kosong tuh. Sebaiknya saya beritahu ah, biar nanti mempersingkat waktu transaksi di teller.
"Maaf bu, saya lihat formulirnya masih ada yang kosong tuh."
"Oh yang ini, harus diisi juga ya?" Dia menunjukkan formulir kosong yang saya maksud.
"Iya bu. Mending diisi sekarang, mumpung masih dekat pulpen. Biar di depan nanti ga perlu lama-lama"
"Iya deh."
Dia mengambil pulpen lalu mengisi formulir. Sementara antrian belum bergerak juga.
"Kayaknya masih lama ya mbak?! Wong dari 15 menit yang lalu saya masih tetap antri di sini." Wanita itu mungkin basa-basi menyapa saya.
"Iya nih"
"Padahal baru seminggu yang lalu saya kesini tapi ga seramai sekarang." Dia membenahi gendongan anaknya.
"Mungkin karena tanggal muda." Saya menimpali sekenanya.
Antrian bergerak sedikit. Anaknya terlihat tidak nyaman berada di tengah antrian. Bocah itu mulai rewel dan memukul-mukulkan tangan pada punggung ibunya.
"Sabar ya le, ibu kirim uang dulu buat kakakmu. Nanti dari sini kita naik angkot lagi, mau kan naik mobil?" Dengan dialek jawa, dia berusaha menenangkan anaknya.
"Putranya umur berapa bu?" Sambil bertepuk tangan ke arah anak itu, berharap bisa mengalihkan perhatiannya.
"Satu setengah tahun mbak. Maaf ya, anak saya rewel. Soalnya, dia biasa main lari-lari. Ya namanya juga anak lelaki, ga bisa diam."
"Itu pipinya kenapa?" Saya menunjuk bercak putih di pipi anaknya.
"Hehehe... Itu panu-an. Ya maklum lah, tinggal di lingkungan proyek bangunan. Mainnya sambil ngacak-acak pasir." Dia terkekeh.
"O.. begitu." Saya tersenyum.
"Suami saya kuli bangunan mbak. Dan kami juga tinggal di lokasi proyek."
"Kok ga cari kontarakan aja?"
"Walah, repot mbak. Tempat kerja bapaknya pindah-pindah. Sekarang proyeknya di Cibinong, beres di sini bisa aja pindahnya ke Depok, atau malah tambah jauh. Kalo ngontrak trus tempat kerjanya pindah lebih jauh, ya berat diongkos mbak."
"Iya juga ya bu."
"Lha gaji kuli kan segitu-gitu aja mbak. Ini aja, saya sisihkan sedikit biar bisa ngirimin anak yang di kampung. Seminggu sekali saya ke sini lho, buat ngirimin walaupun sedikit." Terdengar nada bangga dari suaranya.
"Ga apa-apa bu, sedikit demi sedikit kan nanti bisa jadi bukit." Berusaha membesarkan hatinya.
"Iya mbak ya, soalnya uang di tangan nanti ga terasa habisnya. Makanya tiap minggu kan bapaknya gajian, langsung aja sebagian dipisahkan buat anak yang satunya."
"Kok anak yang satu lagi ga dibawa ke sini, bu?" Saya bertanya penasaran.
"Udah sekolah, repot kalo pindah-pindah jadi saya titip aja sama mbahnya."
"Oo.. Begitu ya bu."
Antrian bergerak, kami pun maju.
"Tadinya saya juga di kampung kumpul sama anak karena tempat kerja bapaknya kan pindah-pindah. Tapi laki-laki kalo jauh dari anak istri, gampang tergoda mbak..." Tanpa sadar, wanita itu mulai curhat.
Bagaikan umbi yang sedikit muncul di permukaan tanah, tinggal memberi sedikit tarikan aja bakal lebih banyak umbi yang keluar.
"Biar ga tergoda, berarti laki-laki itu harus ditemani keluarganya terus ya bu?" Beri sedikit empati agar cerita lebih banyak keluar.
"Ya begitulah mbak. Saya udah ngalami sendiri. Waktu jauhan sama bapaknya, kalo ga saya yang nelpon, bapaknya mana ingat. Nafkah juga begitu, kalo ga dibilangin buat keperluan anak-anak, ga tahu deh kemana pergi gajinya."
"Kecapean kerja kali bu, jadi lupa mau nelepon keluarga."
"Ah, bukan itu mbak. Kemana lagi kalo ga nyari hiburan dan kesenangan sendiri, sampai gajinya habis ga jelas. Emangnya saya anak kemarin sore yang gampang dikibulin?!"
"Aduuh, maaf bu. Saya ga bermaksud begitu." Jadi salah tangkap nih.
"Makanya mbak, terpaksa saya berkorban jadi jauhan sama anak yang besar biar kumpul sama bapaknya."
"Iya bu, hidup itu penuh perjuangan dan pengorbanan ya?!"
"Benar mbak. Siapa lagi yang menjaga keutuhan keluarga, kalo bukan kita sendiri." Dia mengangguk mantap.
Bocah lelaki itu mulai rewel lagi. Ibunya kembali menenangkannya sambil mengalihkan perhatian.
"Eeh... Itu ada bunga le. Lihat itu." Sang ibu menunjuk deretan bunga plastik yang menghiasi salah satu sudut ruangan.
"Bagus ga bunganya? Coba dihitung le, bunganya ada berapa?" Sang anak melihat pada arah yang ditunjukkan oleh ibunya.
"Satu. Dua. Tiga. Ada berapa le?" Bocah itu terlihat mulai teralihkan dari kejenuhan mengantri.
Sementara antrian mulai bergerak. Satu, dua, tiga... Saya pun ikut menghitung. Hmm, masih sepuluh orang lagi, baru setelah itu giliran saya.
Iseng-iseng saya melirik orang yang berada di depan saya. Seorang wanita bersama anak lelaki. Taksiran saya mungkin umurnya antara 35-40 tahun dan. Dilihat dari dandanannya, wanita itu cukup modis. Blus lengan pendek warna merah marun dipadukan dengan celana jins ketat membungkus tubuhnya yang ramping. Rambutnya diberi highlite merah marun juga. Sapuan make up di wajahnya, membuat mukanya terlihat lebih terang dibanding warna leher dan tangannya.Tak lupa tas tangan berwarna coklat, bercorak tiruan inisial salah satu merek terkenal, melengkapi penampilannya.
Ups... ada lembaran formulir yang masih kosong tuh. Sebaiknya saya beritahu ah, biar nanti mempersingkat waktu transaksi di teller.
"Maaf bu, saya lihat formulirnya masih ada yang kosong tuh."
"Oh yang ini, harus diisi juga ya?" Dia menunjukkan formulir kosong yang saya maksud.
"Iya bu. Mending diisi sekarang, mumpung masih dekat pulpen. Biar di depan nanti ga perlu lama-lama"
"Iya deh."
Dia mengambil pulpen lalu mengisi formulir. Sementara antrian belum bergerak juga.
"Kayaknya masih lama ya mbak?! Wong dari 15 menit yang lalu saya masih tetap antri di sini." Wanita itu mungkin basa-basi menyapa saya.
"Iya nih"
"Padahal baru seminggu yang lalu saya kesini tapi ga seramai sekarang." Dia membenahi gendongan anaknya.
"Mungkin karena tanggal muda." Saya menimpali sekenanya.
Antrian bergerak sedikit. Anaknya terlihat tidak nyaman berada di tengah antrian. Bocah itu mulai rewel dan memukul-mukulkan tangan pada punggung ibunya.
"Sabar ya le, ibu kirim uang dulu buat kakakmu. Nanti dari sini kita naik angkot lagi, mau kan naik mobil?" Dengan dialek jawa, dia berusaha menenangkan anaknya.
"Putranya umur berapa bu?" Sambil bertepuk tangan ke arah anak itu, berharap bisa mengalihkan perhatiannya.
"Satu setengah tahun mbak. Maaf ya, anak saya rewel. Soalnya, dia biasa main lari-lari. Ya namanya juga anak lelaki, ga bisa diam."
"Itu pipinya kenapa?" Saya menunjuk bercak putih di pipi anaknya.
"Hehehe... Itu panu-an. Ya maklum lah, tinggal di lingkungan proyek bangunan. Mainnya sambil ngacak-acak pasir." Dia terkekeh.
"O.. begitu." Saya tersenyum.
"Suami saya kuli bangunan mbak. Dan kami juga tinggal di lokasi proyek."
"Kok ga cari kontarakan aja?"
"Walah, repot mbak. Tempat kerja bapaknya pindah-pindah. Sekarang proyeknya di Cibinong, beres di sini bisa aja pindahnya ke Depok, atau malah tambah jauh. Kalo ngontrak trus tempat kerjanya pindah lebih jauh, ya berat diongkos mbak."
"Iya juga ya bu."
"Lha gaji kuli kan segitu-gitu aja mbak. Ini aja, saya sisihkan sedikit biar bisa ngirimin anak yang di kampung. Seminggu sekali saya ke sini lho, buat ngirimin walaupun sedikit." Terdengar nada bangga dari suaranya.
"Ga apa-apa bu, sedikit demi sedikit kan nanti bisa jadi bukit." Berusaha membesarkan hatinya.
"Iya mbak ya, soalnya uang di tangan nanti ga terasa habisnya. Makanya tiap minggu kan bapaknya gajian, langsung aja sebagian dipisahkan buat anak yang satunya."
"Kok anak yang satu lagi ga dibawa ke sini, bu?" Saya bertanya penasaran.
"Udah sekolah, repot kalo pindah-pindah jadi saya titip aja sama mbahnya."
"Oo.. Begitu ya bu."
Antrian bergerak, kami pun maju.
"Tadinya saya juga di kampung kumpul sama anak karena tempat kerja bapaknya kan pindah-pindah. Tapi laki-laki kalo jauh dari anak istri, gampang tergoda mbak..." Tanpa sadar, wanita itu mulai curhat.
Bagaikan umbi yang sedikit muncul di permukaan tanah, tinggal memberi sedikit tarikan aja bakal lebih banyak umbi yang keluar.
"Biar ga tergoda, berarti laki-laki itu harus ditemani keluarganya terus ya bu?" Beri sedikit empati agar cerita lebih banyak keluar.
"Ya begitulah mbak. Saya udah ngalami sendiri. Waktu jauhan sama bapaknya, kalo ga saya yang nelpon, bapaknya mana ingat. Nafkah juga begitu, kalo ga dibilangin buat keperluan anak-anak, ga tahu deh kemana pergi gajinya."
"Kecapean kerja kali bu, jadi lupa mau nelepon keluarga."
"Ah, bukan itu mbak. Kemana lagi kalo ga nyari hiburan dan kesenangan sendiri, sampai gajinya habis ga jelas. Emangnya saya anak kemarin sore yang gampang dikibulin?!"
"Aduuh, maaf bu. Saya ga bermaksud begitu." Jadi salah tangkap nih.
"Makanya mbak, terpaksa saya berkorban jadi jauhan sama anak yang besar biar kumpul sama bapaknya."
"Iya bu, hidup itu penuh perjuangan dan pengorbanan ya?!"
"Benar mbak. Siapa lagi yang menjaga keutuhan keluarga, kalo bukan kita sendiri." Dia mengangguk mantap.
Bocah lelaki itu mulai rewel lagi. Ibunya kembali menenangkannya sambil mengalihkan perhatian.
"Eeh... Itu ada bunga le. Lihat itu." Sang ibu menunjuk deretan bunga plastik yang menghiasi salah satu sudut ruangan.
"Bagus ga bunganya? Coba dihitung le, bunganya ada berapa?" Sang anak melihat pada arah yang ditunjukkan oleh ibunya.
"Satu. Dua. Tiga. Ada berapa le?" Bocah itu terlihat mulai teralihkan dari kejenuhan mengantri.
Sementara antrian mulai bergerak. Satu, dua, tiga... Saya pun ikut menghitung. Hmm, masih sepuluh orang lagi, baru setelah itu giliran saya.
Sunday, June 06, 2010
Luar Biasa!
Pfuiih... berapa bulan ya blog ini ga update??! Maklum deh, penulisnya lagi banyak urusan ditambah lagi koneksi internet yang pas-pasan. Pas ke rumah sodara, pas kompie-nya bisa dipinjam bentar. Pas suami hari libur ngantor, bisa nebeng sebentar. Soalnya di rumah belum bisa online. Kalo ke warnet, ga nyaman.. :( Berisik ama yang maen game online. Ya gpp, pas-pasan aja deh. Alhamdulillah, sekarang bisa update.
Jum'at malam kemarin, sempat nonton talk show di Metro TV. Temanya tentang single parent (ibu) yang berhasil mendidik dan menjadikan anak-anaknya menjadi orang sukses. Single parent dengan 2 anak yang sukses, itu sih bukan hal yang aneh kali ya??! Yang menarik dari acara ini, jumlah anaknya itu ga tanggung-tanggung lho.. Ada yang anaknya 10 bahkan 15. Wow! Hari gini gitu lho, dengan biaya hidup maupun biaya pendidikan yang ga murah?! Luar biasa kan?!
Itu aja deh, update hari ini. Yang jelas saya masih terkagum-kagum dengan ibu-ibu tersebut.
Jum'at malam kemarin, sempat nonton talk show di Metro TV. Temanya tentang single parent (ibu) yang berhasil mendidik dan menjadikan anak-anaknya menjadi orang sukses. Single parent dengan 2 anak yang sukses, itu sih bukan hal yang aneh kali ya??! Yang menarik dari acara ini, jumlah anaknya itu ga tanggung-tanggung lho.. Ada yang anaknya 10 bahkan 15. Wow! Hari gini gitu lho, dengan biaya hidup maupun biaya pendidikan yang ga murah?! Luar biasa kan?!
Itu aja deh, update hari ini. Yang jelas saya masih terkagum-kagum dengan ibu-ibu tersebut.
Tuesday, March 09, 2010
Demam iPhone
Mulai pertengahan bulan Februari sampai hari ini, frekuensi pertemuan saya dengan teman-teman semakin rapat. Sebenarnya bukan karena saya punya ratusan teman di Tsukuba, hanya saja beda komunitas walaupun orangnya itu-itu juga. Paling ada 2 atau 3 orang yang berbeda.
Seringnya berkumpul, secara tidak sengaja saya jadi tahu telepon genggam yang banyak mereka pakai saat ini. Teman-teman yang orang Indonesia hampir semuanya sudah menggunakan iPhone kecuali saya, ibu itu... dan mbak itu. Saya rasa tentang apa itu iPhone, sudah mengerti ya?! Kalau belum ataupun kurang mengerti, silahkan tanya om Google :D
Melihat teman-teman menggunakan iPhone, terlihat praktis sekali. Dimana dan kapan pun mereka bisa online, main game, dengarin musik ataupun memeriksa dan membalas email. Belum lagi kalau ada objek yang bagus untuk dijepret, langsung deh bergaya. Trus fotonya bisa langsung upload ke situs jejaring sosial mereka. Praktis kan?!
Alasan kepraktisan itulah yang membuat saya juga tergoda untuk memiliki iPhone. Saya pun mengajukan proposal kepada suami, yang kemudian ditindak lanjuti dengan mencari info tentang benda tersebut.
Setelah menerima dan memikirkan masukan dari beberapa teman, termasuk di antaranya yang sudah menggunakan iPhone sejak beberapa bulan yang lalu, kami memutuskan tidak jadi membeli benda itu. Karena kemungkinan besar, tidak sesuai dengan kebutuhan kami.
Ya sudah, demam pun berlalu :D
Seringnya berkumpul, secara tidak sengaja saya jadi tahu telepon genggam yang banyak mereka pakai saat ini. Teman-teman yang orang Indonesia hampir semuanya sudah menggunakan iPhone kecuali saya, ibu itu... dan mbak itu. Saya rasa tentang apa itu iPhone, sudah mengerti ya?! Kalau belum ataupun kurang mengerti, silahkan tanya om Google :D
Melihat teman-teman menggunakan iPhone, terlihat praktis sekali. Dimana dan kapan pun mereka bisa online, main game, dengarin musik ataupun memeriksa dan membalas email. Belum lagi kalau ada objek yang bagus untuk dijepret, langsung deh bergaya. Trus fotonya bisa langsung upload ke situs jejaring sosial mereka. Praktis kan?!
Alasan kepraktisan itulah yang membuat saya juga tergoda untuk memiliki iPhone. Saya pun mengajukan proposal kepada suami, yang kemudian ditindak lanjuti dengan mencari info tentang benda tersebut.
Setelah menerima dan memikirkan masukan dari beberapa teman, termasuk di antaranya yang sudah menggunakan iPhone sejak beberapa bulan yang lalu, kami memutuskan tidak jadi membeli benda itu. Karena kemungkinan besar, tidak sesuai dengan kebutuhan kami.
Ya sudah, demam pun berlalu :D
Wednesday, March 03, 2010
Indonesia, Yang Saya Punya
Saat berpamitan dengan seorang kenalan yang kebetulan bukan orang Jepang, sebut saja namanya Ms. Mary, ada satu pertanyaannya yang cukup membuat saya sedikit tersindir.
"Are you really an Indonesian?"
"Yes, off course. Why did you ask it?" Saya mengira dia bercanda.
"Saya pernah berkunjung ke Jakarta selama satu bulan. Dan saya berhubungan dengan banyak orang Indonesia."
"Oh ya?!"
"Ya, dan saya perhatikan kalau hampir semua orang Indonesia itu berkulit hampir coklat. Tapi waktu pertama bertemu kamu...."
"Memangnya kenapa dengan saya??"
"Kulitmu putih. Dan waktu kamu bilang berasal dari Indonesia, saya agak kaget."
Ucapannya itu cukup membuat saya ge-er.
"Ooo, begitu kah?? Menurut anda, tadinya saya berasal dari mana?"
"Hmm... Kamu lebih mirip orang China."
"No... No. Hanya darah Indonesia yang saya punya. Asli."
"Benarkah? Tidak ada keturunan China?"
"Yang saya tahu, kakek-nenek asli Indonesia. Bahkan nenek buyut/ nenek ayah saya (masih hidup sampai saya masa kuliah), juga asli Indonesia. Seandainya kami ada keturunan China, pasti ada kebudayaan China yang kami jalani sehari-hari."
********
Singkat cerita, dia percaya saya orang Indonesia asli. Sebaliknya saya yang mulai gelisah. Asli Indonesia tapi apa saja yang sudah saya perbuat untuk bangsa dan tanah air Indonesia?
"Are you really an Indonesian?"
"Yes, off course. Why did you ask it?" Saya mengira dia bercanda.
"Saya pernah berkunjung ke Jakarta selama satu bulan. Dan saya berhubungan dengan banyak orang Indonesia."
"Oh ya?!"
"Ya, dan saya perhatikan kalau hampir semua orang Indonesia itu berkulit hampir coklat. Tapi waktu pertama bertemu kamu...."
"Memangnya kenapa dengan saya??"
"Kulitmu putih. Dan waktu kamu bilang berasal dari Indonesia, saya agak kaget."
Ucapannya itu cukup membuat saya ge-er.
"Ooo, begitu kah?? Menurut anda, tadinya saya berasal dari mana?"
"Hmm... Kamu lebih mirip orang China."
"No... No. Hanya darah Indonesia yang saya punya. Asli."
"Benarkah? Tidak ada keturunan China?"
"Yang saya tahu, kakek-nenek asli Indonesia. Bahkan nenek buyut/ nenek ayah saya (masih hidup sampai saya masa kuliah), juga asli Indonesia. Seandainya kami ada keturunan China, pasti ada kebudayaan China yang kami jalani sehari-hari."
********
Singkat cerita, dia percaya saya orang Indonesia asli. Sebaliknya saya yang mulai gelisah. Asli Indonesia tapi apa saja yang sudah saya perbuat untuk bangsa dan tanah air Indonesia?
Tuesday, February 16, 2010
Made in Japan
Kalo orang Bali nikah sama orang Jepang, kira-kira nama yang cocok untuk anaknya apa coba???
Made in Japan!! Kan orang Bali banyak tuh, yang namanya pake embel-embel Made... Karena salah satu ortu-nya berdarah Jepang, nama yang cocok ya Made in Japan :D
Ya begitu dulu preface joke-nya ya... Tebakan lucu jadul, jaman saya sekolah dulu.
Saya bukan bermaksud menyinggung lho.... Hanya joke pengantar aja. Mohon maaf.
Yang ingin saya tulis juga bukan pernikahan beda bangsa ataupun beda budaya. Melainkan tentang barang-barang produksi Jepang yang semakin langka ditemukan. Walaupun saat ini saya berdomisili di Jepang, tapi saya cukup merasa kesulitan dalam mendapatkan barang tersebut.
Sebenarnya saya bukan termasuk orang yang 'Japan minded'. Hanya saja, berdasarkan pengalaman selama ini barang produksi Jepang lebih awet dibanding China ataupun lainnya. Kalo dilihat harga, lebih murah produk China tapi bila kita bandingkan dengan lama pemakaiannya sama saja.
Masalahnya sekarang, saya mencari barang yang akan diberikan sebagai oleh-oleh dari Jepang. Tentu saja saya berharap barang tersebut made in Japan. Nyatanya untuk mendapatkan barang tersebut tidaklah mudah. Seorang teman (orang Jepang) menyarankan, cari saja yang tulisan labelnya pakai huruf kanji semua walaupun bukan made in Japan . Jadi kan dianggap benar-benar produksi Jepang, kecuali orang yang menerima barang tersebut mengerti huruf kanji. Hihihi... nakal juga tuh, idenya :D
Made in Japan!! Kan orang Bali banyak tuh, yang namanya pake embel-embel Made... Karena salah satu ortu-nya berdarah Jepang, nama yang cocok ya Made in Japan :D
Ya begitu dulu preface joke-nya ya... Tebakan lucu jadul, jaman saya sekolah dulu.
Saya bukan bermaksud menyinggung lho.... Hanya joke pengantar aja. Mohon maaf.
Yang ingin saya tulis juga bukan pernikahan beda bangsa ataupun beda budaya. Melainkan tentang barang-barang produksi Jepang yang semakin langka ditemukan. Walaupun saat ini saya berdomisili di Jepang, tapi saya cukup merasa kesulitan dalam mendapatkan barang tersebut.
Sebenarnya saya bukan termasuk orang yang 'Japan minded'. Hanya saja, berdasarkan pengalaman selama ini barang produksi Jepang lebih awet dibanding China ataupun lainnya. Kalo dilihat harga, lebih murah produk China tapi bila kita bandingkan dengan lama pemakaiannya sama saja.
Masalahnya sekarang, saya mencari barang yang akan diberikan sebagai oleh-oleh dari Jepang. Tentu saja saya berharap barang tersebut made in Japan. Nyatanya untuk mendapatkan barang tersebut tidaklah mudah. Seorang teman (orang Jepang) menyarankan, cari saja yang tulisan labelnya pakai huruf kanji semua walaupun bukan made in Japan . Jadi kan dianggap benar-benar produksi Jepang, kecuali orang yang menerima barang tersebut mengerti huruf kanji. Hihihi... nakal juga tuh, idenya :D
Subscribe to:
Posts (Atom)



